BFLF Aceh

now browsing by tag

 
 

Bagi Pendonor, BFLF Sediakan ID Card

ID Card BFLF

BFLF – Dalam upaya membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan darah, Yayasan Blood for Life Foundation (BFLF) Aceh baru-baru ini membuat ID card BFLF untuk dibagikan kepada masyarakat. Selain sebagai kartu pengenal dan data base pendonor darah, kartu BFLF juga dapat digunakan sebagai alat adminstrasi Anjungan Tunai Mandiri (ATM) bersama.

Direktur BFLF, Michael Octaviano, S.STP kepada LintasGayo.co, Sabtu (07/6/2014) siang menjelaskan, program BFLF membuat kartu tersebut adalah sebagai upaya mempermudah mengumpulkan data base pendonor darah di Aceh,”Dengan adanya kartu tersebut, kita akan lebih mudah mengumpulkan data sahabat-sahabat kita yang ingin mendonorkan darahnya. Dengan begitu, jika ada masyarakat yang mendadak membutuhkan darah langsung bisa kita hubungi pemilik kartu BFLF untuk membantu mereka,” terang Michael.

Selama ini di Aceh sulit untuk mendapatkan data base pendonor, sehingga ketika masyarakat tiba-tiba membutuhkan darah, mereka bahkan pihak terkait juga sulit untuk membantu. Karena itu kita ingin memperbaiki kekurangan itu, tambah Michael lagi.

Selain itu, kartu tersebut juga dapat digunakan sebagai alat transfer dana di ATM bersama. Ini difungsikan untuk masyarakat yang ingin ikut membantu menyumbangkan dana untuk disumbangkan kepada masyarakat miskin yang menderita berbagai macam penyakit serius,”Kita akan menjadi wadah pengumpulan bantuan dana sumbangan kepada masyarakat yang membutuhkan. Kita akan kelola dengan baik tanpa memotong sepeserpun,” tegas Michael.

Michael menambahkan, dalam pembuatan kartu BFLF, pihaknya bekerjasama dengan Bank Bukopin tapi kartu tersebut berlaku untuk ATM bersama dan bisa digunakan walaupun berada diluar Indonesia.

Untuk pembuatan kartu itu sendiri cukup mudah dan gratis, cukup mendaftarkan langsung ke pihak BFLF. Namun seperti halnya kartu ATM yang lain, dalam pembuatan kartu BFLF juga harus diisi saldo sebesar Rp.100.000 dan dana tersebut sebagai syarat saldo kartu dan bersifat milik pribadi. Untuk lebih jelasnya, Anda dapat menghubungi pihak BFLF di nomor 0852 6047 4733 (Popy) atau 0812 6085 2973 (Michael) juga bisa langsung mendatangi sekretariat BFLF di di Jalan Tgk.H,M.Daud Bereueh, Lorong Jeumpa No.1, Berawe (Samping Zakir Kupi) Lampriet, Banda Aceh. demikian Michael.[]

Source: Lintasgayo

BFLF Buka Layanan Konseling Gratis Bagi Warga Aceh

Bimbingan Konseling

BFLF – Blood For Life Foundation (BFLF) sejak sebulan terakhir membuka pelayanan konseling secara gratis kepada warga Aceh dari semua kalangan. Layanan itu juga melayani anak-anak thalesemia untuk membantu mentalitas mereka sehingga mampu bertahan dan lebih kuat.

Sekretaris Umum sekaligus Konselor, Popy Citra Sari Morian kepada Serambi, Selasa (7/1/2014) mengatakan layanan konseling yang diberikan seputar permasalahan keluarga, karir, remaja, dan perkembangan anak. Menurutnya, dari tujuh klien yang melakukan konseling empat di antaranya merupakan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

“Dilihat dari keluhan klien saat melakukan konseling, kasus KDRT cukup mendominasi. Sedangkan yang lainnya, seperti remaja dan karir rata-rata mengeluhkan kepuasan kerja dan peningkatan motivasi maupun karir dalam pekerjaan.”

Popy menambahkan, untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi klien, pihaknya memberikan solusi berupa pilihan-pilihan terbaik yang ditawarkan. Sehingga, tambahnya klien tersebut yang akan menentukan jalan maupun sikap yang dipilih.

“Kita hanya menunjuk jalan selanjutnya kembali lagi ke kliennya untuk mengambil jalan yang mana akan dipilih,” kata Popy.

Warga yang ingin berkonsultasi, menurut Popy bisa langsung datang atau memberitahun sebelumnya di nomor kontak yang sudah disediakan BFLF.[]

Source: Serambi

BFLF Ajak Pemuda Aceh Peduli HIV/AIDS

peduli-hiv-aids

BFLF – Sejumlah aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh mengajak anak-anak muda Aceh untuk peduli terhadap perkembangan HIV/AIDS di Tanah Rencong.

Relawan BFLF, Teuku Ramadhan, mengatakan pemuda sebagai agen perubahan harus mempunyai kepedulian terhadap realitas sosial yang terjadi di sekitar mereka, termasuk perkembangan HIV/AIDS yang meski sudah menurun tapi masih tetap mengkhawatirkan.

“Hari ini masyarakat banyak yang tidak sadar akan virus HIV/AIDS, terkadang di sekitar mereka sudah ada namun masyarakat tidak peduli bahkan tidak mau tahu sama sekali,” kata Ramadhan kepada Klikkabar.com, Selasa, 1 Desember 2015.

Dari catatan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Aceh, ada 58 kasus HIV/AIDS baru di Aceh tahun 2015. Sebanyak 40 orang di antara mereka sudah positif mengidap AIDS sedangkan 18 lainnya baru positif terjangkit virus HIV. Jumlah ini mengalami penurunan dibanding tahun 2014 dengan 83 kasus.

“Generasi muda harus lebih peduli lagi terhadap ini,” kata Ramadhan.

Ramadhan juga mengajak anak muda menjaga pergaulan agar terhidar dari virus HIV. Pergaulan bebas, apalagi jika disertai ‘jajan’ sembarangan, memang meningkatkan kerentanan terjangkitnya virus yang belum ditemukan obatnya ini.

“Pemerintah selaku tempat berlindung masyarakat juga harus memiliki kepedulian yang besar terhadap pendidikan seks sejak usia dini,” tutup Ramadhan. []

Source: Klikkabar

Bantu Keluarga Miskin, BFLF Sediakan Rumah Singgah

rumah singgah BFLF

BFLF Aceh – Blood For Life Foundation (BFLF) selama ini menyewa sebuah rumah untuk disinggahi pasien beserta keluarga dalam masa rawat ke rumah sakit. Rumah hunian sementara ini diperuntukkan kepada keluarga miskin dari daerah yang harus melakukan pengobatan rutin di rumah sakit.

“Sekarang lagi mengumpulkan donasi untuk melanjutkan sewa rumah singgah. Karena rumah singgah sekarang ini sudah hampir habis masa sewanya, rencana kami ingin menyewa rumah lima kamar agar lebih besar dari sebelumnya,” kata Teuku Ramadan, Project Manajer BFLF kepada portalsatu.com beberapa hari yang lalu (19/10/15)

Dia mengatakan saat ini rumah singgah BFLF sedang ditempati oleh pasien dari Aceh Singkil dan Krueng Raya, Aceh Besar. “Kami hanya fokus kepada pasien penderita thalasemia, kanker, dan hemophilia dikarenakan mereka berasal dari keluarga kurang mampu,” katanya.

rumah singgah BFLF

Rumah singgah BFLF

Menurutnya rumah singgah ini hanya dihuni saat pasien membutuhkan saja, terkadang juga kosong. Namun tidak jarang rumah tersebut penuh dan banyak masyarakat yang ingin menempati dikarenakan penghuninya tidak dibatasi ingin tinggal berapa lama.

“Seperti pasien dari Aceh Singkil, sudah satu bulan lebih menempati rumah singgah karena anaknya harus berobat rutin. Kalau kebutuhan pokok mereka juga kita tanggung semua termasuk uang saku. Tetapi untuk uang saku kita berikan dua minggu sekali, kalau kebutuhan pokok kita subsidi tiap kali habis,” ujar Ramadan.

Ia mengakui terkadang subsidinya macet dikarenakan masih minim para donatur. Dana yang digunakan selama ini dari para donatur, tetapi belum ramai yang mengetahui. Sejauh ini donatur hanya sebatas dari lingkungan sekitar saja dan belum memiliki donatur tetap.

Selain menyediakan rumah singgah, komunitas yang dipimpin oleh Michael Oktaviano ini juga membagikan 30 nasi bungkus gratis tiap harinya di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh.

BFLF merupakan organisasi sosial atau lembaga berprestasi tingkat nasional peringkat ke 5 dan memiliki beberapa program berupa mediator darah untuk pasien, rumah singgah, gerakan nasi bungkus, layanan antar jemput, traveling for humanity, seminar kemanusiaan, pengumpulan donasi dan berbagai program lainnya. Selama ini, komunitas yang bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sekaligus partner RSUZA ini sudah memiliki cabang di Lhokseumawe, Sigli, dan Aceh Barat.[]

Source: Portalsatu

BFLF Bagikan 30 Nasi Bungkus Tiap Hari

Relawan BFLF Aceh membagikan nasi bungkus

BFLF Aceh – Perempuan itu berjalan menyambangi setiap keluarga pasien. Tangan kanannya menenteng plastik biru. Di dalamnya, terlihat beberapa kotak atau bungkusan nasi. Ia adalah relawan Blood For Life Fundations (BFLF), komunitas yang bergerak di bidang mediator darah.

Siang itu, sejumlah relawan BFLF menyambangi Rumah Sakit Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Kedatangan mereka untuk membagikan 30 bungkus nasi kepada keluarga pasien. Keluarga penderita penyakit thalassemia, hemofili anak, dan kanker anak mereka sambangi. Setelah berbasa-basi sejenak, para relawan ini kemudian menyerahkan bekal makan siang.

“Setiap hari kami menyediakan minimal 30 bungkus nasi untuk kami bagikan kepada keluarga pasien tiga penyakit itu. Tujuannya untuk meringankan beban mereka,” kata Founder BFLF Michael Oktaviano, kepada detikcom, Sabtu (17/10/2015).

Program memberikan nasi makan siang keluarga pasien ini sudah berlangsung sejak enam bulan silam. Para relawan BFLF ini memperoleh nasi dari para donatur tetap maupun donatur tidak tetap. Saban siang, beberapa relawan diutus untuk mengantar nasi kepada keluarga pasien yang dirawat di RSUZA. Mereka rata-rata mendapat jatah bervariasi. Tergantung jumlah orang yang mengawal pasien.

“Biasanya kami memberi dua bungkus kalau keluarganya banyak,” jelasnya.

Ide program ini berawal dari keprihatinan relawan BFLF terhadap sejumlah keluarga pasien. Mereka rata-rata datang dari luar Banda Aceh dan kekurangan biaya selama di rumah sakit. Untuk mengurangi beban mereka, BFLF berinisiatif membantu. Awalnya memang bukan perkara mudah bagi relawan BFLF untuk membantu mereka.

Selain terkendala biaya, mereka juga belum punya donatur tetap kala itu. Setelah gencar melobi, akhirnya menemukan dua rumah makan yang mau bergabung. Untuk nasi yang dibagi pun waktu itu bukan 30 bungkus. Tapi hanya 25 bungkus. Para relawan ini membagikannya kepada keluarga pasien yang benar-benar kurang mampu.

“Fokus kita untuk keluarga kurang mampu. Karena rata-rata penderita penyakit thalassemia, kanker, atau hemofilia ini berasal dari keluarga kurang mampu,” ungkap Michael.

ketua BFLF membagikan nasi kepada keluarga pasien

Kini, para relawan BFLF juga masih mengalami sejumlah kendala dalam membagi-bagikan nasi makan siang. Antara lain, sering tidak cukup nasi pada hari-hari tertentu. Michael bercerita, pada hari Senin hingga Kamis biasanya sering tidak cukup nasi. Hal itu karena banyaknya pasien yang berobat. Namun ada juga hari-hari yang kelebihan nasi karena tidak banyak pasien.

Tujuan pemberian makan siang ini selain meringankan beban, juga untuk memberi ketenangan kepada keluarga pasien. Ini dilakukan agar mereka rajin membawa anggota keluarganya berobat dan tidak berpikir biaya lagi. Selama ini, banyak pasien thalassemia, kanker anak yang datang dari berbagai daerah di Aceh sering mengeluh soal biaya.

Kehadiran komunitas ini disambut positif keluarga pasien. Bahkan jika para relawan telat datang, keluarga pasien mulai bertanya-tanya. Mereka sebagian menunggu anggota BFLF di luar ruangan dan ada juga yang menunggu di dalam.

“Kami mendatangi setiap kamar untuk menyerahkan langsung pada keluarga pasien. Sekarang kami fokusnya untuk penyakit itu. Tapi kalau ada nasi lebih kami juga akan memberikan untuk keluarga pasien penderita penyakit lain,” jelas Michael.

BFLF digagas oleh Michael pada 2009 silam. Ide awal pendirian komunitas ini karena saat itu kebutuhan darah untuk penderita thalassemia di Aceh semakin banyak. Persediaan darah kerap tidak cukup. Para relawan BFLF ini akhirnya menjadi mediator darah untuk mencari pendonor yang mau mendonorkan darah mereka.

“Tiga penyakit itu memang paling banyak membutuhkan darah,” ungkapnya.

Beberapa waktu lalu, komunitas BFLF ini mendapat penghargaan lima besar tingkat nasional dari Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Sertifikat prestasi itu diteken langsung oleh Mensos dan diberikan pada 20 Desember 2014 lalu.

Selain menyediakan makan siang gratis, komunitas ini juga mendirikan rumah singgah di kawasan Lampineung, Banda Aceh. Tujuannya, agar keluarga pasien yang tidak punya tempat tinggal bisa menginap di sana selama berobat. Rumah itu dapat menampung tiga keluarga pasien.

Bukan itu saja, komunitas  BFLF juga menggelar Travelling For Humanity ke Pulo Aceh, Aceh Besar dan pedalaman Lhokseumawe. Kegiatan ini rutin digelar dua bulan sekali. Kegiatan tersebut bertujuan untuk berbagi untuk misi sosial dan kemanusiaan yang berfokus pada pendidikan dan kesehatan daerah terpencil.

“Harapannya masyarakat di daerah terpencil terbantu dari segi pendidikan dan kesehatan,” katanya.[]

Source: Detiknews

Bersama Tulong Aceh, BFLF Adakan Lomba Foto Instagram

lomba-foto-1-696x464

BFLF – Blood For Life Foundation bersama komunitas Tulong Aceh akan mengadakan “Travelling For Humanity” ke Pulo Aceh pada tanggal 17-19 September 2015. Dalam rangka kegiatan tersebut Blood For Life Foundation dan komunitas Tulong Aceh, akan mengadakan lomba foto di media sosial Instagram dengan tema “Travelling for Humanity”.

Blood For Life Foundation (BFLF) merupakan komunitas yang memilih konsen dalam gerakan sosial atau menjadi suatu media komunikasi seputar donor darah dan kesehatan transfusi darah. Sedangkan Tulong Aceh adalah sebuah wadah yang disediakan untuk mewujudkan youth collaboration antar pemuda dan pemudi Aceh. Seperti dikutip dari situs bflf.or.id dan fanpage Tulong Aceh.

Menurut rilis yang diterima oleh acehraya.co.id, bagi 2 pemenang terbaik berdasarkan penilaian dewan juri, akan mendapatkan 2 tiket gratis untuk ikutan Travelling For Humanity ke Pulo Aceh dan goodiebag cantik untuk 1 pemenang favorit dengan jumlah like terbanyak, serta merchandise untuk ketiga pemenang.

Bagi anda yang ingin mengikuti kompetisi foto ini cukup simple. Upload foto kegiatan sosial atau kemanusian yang anda lakukan di media sosial Instagram. Lalu, mention @blood_bflf dan @tulongaceh beserta 5 teman anda dengan hastag #Travellingforhumanity.

Kompetisi lomba foto Instagram Blood For Life bersama komunitas Tulong Aceh “Travelling For Humanity” ini berlangsung sampai 10 September 2015. Pengumuman pemenang dilakukan pada 12 September 2015.

Sementara itu, untuk foto yang diunggah oleh peserta harus menggambarkan tema. Terakhir, peserta juga wajib menuliskan caption seperti yang tertera di banner di bawah ini.[]

Source: Acehraya

Walikota Bengkulu Kunjungi BFLF Aceh

BFLF, Banda Aceh – Walikota Bengkulu Helmi Hasan, SE mengunjungi provinsi Aceh, dengan agenda ke Banda Aceh acara dan kunjungan ke Dinas Sosial Banda Aceh. Pada kunjungan tersebut ia turut berkunjung ke kantor Blood For Life Foundation (BFLF) yang juga merupakan salah satu organisasi sosial donor darah  di Aceh.

Pada kesempatan tersebut Helmi berharap nanti juga di Bengkulu bisa dibentuk cabang BFLF seperti di Aceh yang bertujuan membantu masyarakat disana. Demikian rilis yang disampaikan oleh pihak BFLF, Minggu (13/9/2015)

Walikota Bengkulu mengungkapkan bawah dia Ingin BFLF yang ada di Aceh juga di bentuk di Bengkulu guna membantu masyarakat Bengkulu yang kelainan darah. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan BFLF seperti di Aceh juga dapat dilaksanakan di sana.

Senada dengan harapan walikota tersebut, Ketua BFLF Michael Octaviano, S.STP, menyambut dengan hangat ajakan untuk membuka cabang disana, karena BFLF saat ini merupakan satu-satunya yang berada di Indonesia. Namun, sebelum itu Michael terlebih dahulu ingin memperkokoh BFLF di Aceh yang menjadi pusat saat ini, sehingga dengan begitu akan mempermudah komunikasi-komunikasi yang akan dibangun dan juga kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan nantinya.

“Kita sangat terbuka terhadap hal yang seperti ini, apalagi Aceh merupakan pelopor pertama yayasan seperti ini, sehingga kita dengan senang ingin berbagi dengan daerah-daerah lain nantinya” ungkapnya.

Lebih lanjut, Helmi Hasan merasa kagum dan Bangga akan semangat generasi muda di Aceh. “Semangat muda di Aceh juga memberikan contoh buat daerah lainnya, bagaimana dengan organisasi yang bisa dibilang sukarela. Namun, bisa mengembangkannya menjadi sebuah organisasi yang besar dan bisa di bilang tanpa sumber modal yang jelas yang artinya bersifat sukarela.” ungkapnya. []

Source: The Globe Journal

‘Ramadhan, Darah dan Cinta’ Dari BFLF Abdya

Ramadan, Darah dan Cinta

BFLF – Blood for Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya (Abdya), Sabtu (21/6) menyelenggarakan donor darah bertajuk “Ramadan, Darah dan Cinta”. Kegiatan peduli kemanusiaan tersebut berlangsung di Aula Dinas Kesehatan yang diikuti sejumlah warga dari berbagai kecamatan dalam kabupaten itu.

Aksi peduli masyarakat tersebut dikemas dalam berbagai bentuk, seperti seminar tentang pemahaman visi dan misi BFLF, konsultasi kandungan dan anak, konsultasi kulit dan kosmetika, ulasan beragam masalah kehidupan, bimbingan religi, dan ditutup dengan donor darah.

Koordinator BFLF Abdya, Nasruddin OOS, dalam kesempatan itu kepada Ana­lisa mengatakan, kegiatan ini dilakukan bertujuan membantu kebutu­han darah terutama pada saat bulan Ramadan 1435 H.

Selain itu, aksi sosial ini juga untuk meringankan beban masyarakat yang sedang membutuhkan darah yang akhir-akhir ini sangat sulit diperoleh, bahkan dari pendonor.

Sebelumnya, BFLF Abdya merenca­nakan melaksanakan donor darah massal, namun langkah itu terkendala karena bank darah tidak mampu menyimpan dalam kapasitas banyak.

“Awalnya kita berencana seperti itu. Tetapi karena saat ini bank darah sedang tidak mampu menyimpan dalam kapasi­tas besar kita tidak bisa melakukan donor darah secara massal. Hanya untuk pasien yang membutuhkan hari ini yang sesuai golongan darahnya itu langsung kita arahkan ke Unit Transfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Umum Teungku Peukan (RSUTP) Abdya,” katanya.

Menurut Nasruddin, seharusnya, untuk menyambut Ramadan ini banyak memiliki stok darah, karena, pada bulan puasa pendonor tidak mungkin memba­talkan ibadah puasanya untuk mendonor darah, dan dikhawatirkan stok darah di RSUTP Abdya tidak mencukupi selama bulan puasa.

Disebutkan, seminar tentang manfaat donor darah disampaikan oleh dr Adi Arulan Munda, ulasan bimbingan religi disampaikan Dra Hj Rabiatul Adawiyah Apt MKes, kesehatan kulit disampaikan dr Wahyu Lestari SpKK dan materi tentang beragam persoalan masyarakat disampaikan Sri Handayani, SPsi CH.

“Acara yang kita gelar ini juga tidak akan berakhir di sini. Kita akan me­manfaatkan perkembangan teknologi informasi untuk mencari pendonor darah. In­sya Allah acara selanjutnya akan kita la­kukan juga konseling berjalan, dan kita akan fokuskan pada remaja, seperti pembahasan kebiasaan pacaran,” tutur­nya.

Lebih lanjut dia mengharapkan seluruh masyarakat Abdya terus meningkatkan solidaritasnya dalam membantu ma­syarakat yang sedang sakit dan sangat membutuhkan bantuan darah.[]

Source: Analisadaily

Perihatin Dengan Keluarga Ileostomi, BFLF Tanggung Kebutuhan Makan

wpid-fb_img_1448096081519.jpg

BLFL Aceh – Melihat perjuangan Nurhayati mengobati Hafizatul Rahma, anaknya yang saat ini didera penyakit Ileostomi, Blood For Life Foundation (BFLF) memutuskan untuk menanggung kebutuhan Nurhayati akan makanan, yaitu makan siang dan makan malam.

Tujuan BLFL menanggung kebutuhan makanan Nurhayati supaya sang ibu bisa fokus menjaga Hafizah selama masa penyembuhan di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh.

“Kami melihat perjuangan ibu Nurhayati yang luar biasa untuk anaknya Hafizah, ditambah lagi dengannya tidak mempunyai suami. Maka oleh karena itu kami meminta kepada ibu Nurhayati untuk fokus menjaga anaknya,” ujar Ketua BFLF Michael Octaviano, Jumat (3/4/2015).

Untuk menanggung kebutuhan makan Hayati dua kali sehari, pihak BFLF bekerja sama dengan Rumah Makan Dapur Minang. Tidak hanya Hayati, mereka juga menanggung makan nenek Hafizah yang selama ini menjaganya ketika Hayati bekerja.

Sebelumnya, BFLF sudah melakukan gerakan 10 nasi bungksus gratis untuk pasien talesemia, himovili, dan kanker.

Sebenarnya, kata Michael, pihaknya sudah mengetahui keadaan Nurhayati pada saat pertama kali membawa Hafizah ke RSUZA. Namun kata Michael, pada saat kami ingin membatu, ibu tersebut sudah pulang. “Saat itu Hafizah dirawat di Ruang Jeumpa.”

Ketua BFLF Banda Aceh ini berharap, agar masyarakat juga membantu keluarga kurang mampu yang sedang membutuhkan pertolongan. []

Source: Sumberpost