NASRUDDIN OOS: PAHLAWAN TAK BERTOPENG DARI ACEH BARAT DAYA

@Nasruddin Oos

OOS demikian namanya dipanggil. Sekilas pandang, tak ada sesuatu yang berbeda jika tidak dikatakan bisa diharapkan dari pria ini. Kulitnya yang hitam makin mempertegas eksotisme garis DNAnya. Prestasi akademikpun nampaknya tidak terlalu menonjol, jarang terdengar Oos memberikan khutbah tentang topik yang berhubungan dengan studinya. Ketika kuliah, dia pernah memanjangkan rambut gondrong yang ikal keriting tak jadi. Ini dapat ditelusuri dari foto yang dia unggah di Facebook pribadinya. Suka mendesain, namun tidak punya toko grafika sampai tulisan ini diturunkan. Hal ini juga dapat dibuktikan dari banyaknya baju kaos yang bertulisan suka-suka dia. Banyak status yang dia unggah, terkadang butuh interpretasi ulang. Dan selalu diakhiri dengan tulisan *Nyan Mantoeng. Dari segi seni jika diklasifikasikan, Oos mirip-mirip dengan Sujiwo Tejo.

Kegilaannya pada kegiatan sosial memang telah tampak semenjak masa mahasiswa. Celakanya sepulang kekampung halaman, kegilaannya semakin bertambah. Bahkan Oos mampu membuat kegilaannya tertular pada orang-orang baru. Perselingkuhannya dengan dunia fotografi telah membidani lahirnya KomfOOs serta memberi energi lahirnya beberapa komunitas foto lain di Abdya. Menjadi wartawan, yang telah berpindah beberapa media membuatnya tetap diperhitungkan didunia jurnalistik. Mengenai asmara, tak banyak yang dapat diketahui dari seorang Oos yang sampai hari belum beristri. Oos juga aktif pada Blood For Life Foundation yang merupakan lembaga sosial yang berurusan dengan donor darah.

Oos memang belum punya anak, tapi dia telah membantu banyak anak tak kehilangan Ibunya. Oos memang belum punya anak, tapi melalui acaranya dia bisa mengajak orang mendonorkan darah sehingga seorang anak masih bisa memanggil seseorang dengan panggilan Ayah. Banyak saudara yang telah tertolong dengan adanya lembaga ini. Banyak orang yang bisa tetap sehat meski telah berbagi darah dengan sesama. Acaranya yang terbaru mengangkat judul “silaturahmi empat golongan”, kembali menyajikan fakta bahwa Oos dan komunitasnya terus beraksi. Oos tak memerlukan topeng, dan dia juga tak memerlukan panggung untuk aksinya. Tak perlu ajak wartawan, karena relawannya sendiri termasuk ada wartawan. Karena selalu ada cinta untuk cinta meskipun belum ada cinta dan belum beristri. Semoga cepat beristri.*Nyan Mantoeng.

**Tulisan ini ditulis sebelum Oos mengakhiri masa lajangnya, kini dia sudah menikah dengan meminang seorang gadis dari Bireuen pada tanggal 23 September 2016.

Penulis; Ikhwanul Abu Asyrafi·1 Juni 2016

Seorang Guru FISIKA di Salah Satu SMK di Aceh Barat Daya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *