Mahasiswa Psikologi Terapi 260 Penderita Thalasemia

BANDA ACEH – Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu (STI) Psikologi Harapan Bangsa, Banda Aceh, melakukan terapi gratis untuk 260 anak penderita thalasemia, di satu ruangan bekas bangunan lama Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA), Banda Aceh. Terapi yang dilakukan berupa relaksasi, ketawa bersama, serta bercerita dan belajar sambil bermain.

Direktur STI Harapan Bangsa, Dra Endang Setianingsih MPd Psi mengatakan, terapi yang melibatkan mahasiswanya itu akan rutin dilaksanakan setiap Senin dan Selasa, dan direncanakan terus berlanjut tanpa batas waktu. “Kami dari STI Psikologi ingin menjadi relawan untuk bisa terus mendampingi mereka, agar mereka bisa terus memiliki semangat hidup,” ujar Endang kepada Serambi, Kamis (22/1).

Ia menyebutkan, selama ini para relawan Blood For Life Foundation (BFLF) yang diketuai Michael Octaviano SSTP, sudah cukup berperan dalam melakukan pendampingan bagi anak dan para penderita thalasemia. Relawan BFLF itu, sebut Endang, selama ini rutin mencari kebutuhan darah untuk kebutuhan para penderita thalasemia, agar mereka bisa terus bertahan hidup.

Ia menyebutkan, data dari Direktur RSUZA, dr Fachrul Jamal SpAN, penderita thalasemia yang dirawat di sana paling banyak berusia 5 sampai 30 tahun, dan berasal dari Pidie dan Aceh Besar. Thalasemia, katanya, merupakan penyakit turunan kelainan darah yang ditandai kondisi sel darah merah mudah rusak. Jika sel darah normal bertahan 120 hari, pada penderita thalasemia hanya 40 hari. Karena itu, perawatannya dengan dengan memberi obat dan transfusi darah secara rutin.

“Thalasemia bukan penyakit menular, tapi penyakit bawaan lahir. Secara medis memang belum dapat disembuhkan. Tapi dapat diminimalisir dengan melakukan skrining atau pemeriksaan darah sebelum menikah. Ini untuk mengetahui apa salah satu di antara pasangan dimaksud menderita thalasemia atau memiliki riwayat memiliki penyakit itu. Kalau sudah diketahui mungkin ada langkah-langkah yang bisa ditempuh,” ujarnya.

Endang mencontohkan, di negara berkembang seperti di Swedia, jarang ditemukan penderita thalasemia. Karena, pemerintah di sana sudah punya peraturan agar setiap pasangan yang akan menikah harus melakukan pengecekan darah. “Kita harap ke depan pemerintah kita bisa menggagasnya,” demikian Endang.(mir)

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Editor: bakri

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *