Donor Darah#

now browsing by category

 

Najwa dan Thallasemia yang Dideritanya

18301939_1245813208869752_7309359530790144289_n

Najwa Nitami (baju biru) duduk dipangkuan ibunya serta didampingi oleh Relawan BFLF Aceh Barat Daya. Foto Dok Bflf Abdya

BFLFAbdya.org | Blangpidie – Najwa Nitami (6 thn) penderita thallasemia dari keluarga kurang mampu ini pertama sekali bertemu dengan Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya pada bulan November 2016. Lewat saluran telpon tersebut berkomunikasi agar mendapatkan tempat tinggal saat ke Banda Aceh untuk transfusi di RSUD dr.Zainoel Abidin. Lelaki kurus, kulit hitam rambut beruban tersebut berprofesi sebagai sopir mengangkut material bahan bangunan seperti pasir di Aceh Barat Daya, ya lelaki tersebut yang telah lama hidup dalam perantauan bernama nama lengkap Suhaimi. Najwa Nitami melakukan transfusi pertama sekali di ruang thallasemia RSUDZA Banda Aceh tersebut sekitar tanggal 8 November 2016, anak dari Suhaimi ini dirujuk dari BLU RSUD Teungku Peukan Aceh Barat Daya, selama di Banda Aceh Suhaimi, bersama istri dan Najwa serta adik dari Najwa tersebut tinggai di Rumah Singgah BFLF yang waktu itu masih beralamat di jalan Pari No.22 Lampriet. Setelah pulang dari transfusi tersebut, BFLF Aceh Barat Daya sudah mengkomfirmasikan kepada ayah Najwa untuk dapat memberikan jadwal transfusi selanjutnya, bila tidak ada ongkos mobil biar difasilitasi oleh BFLF Abdya. Tanpa kabar, beberapa hari lalu BFLF Aceh Barat Daya mendapat kabar kalau ayah Najwa mengalami kecelakaan dua bulan lalu dan kakinya patah, padahal Najwa sudah harus melakukan transfusi, namun alasan ayahnya menunggu kesembuhan dia dulu. Sehingga bertepatan pada hari Thallasemia sedunia, Senin sore 08 Mei 2017, BFLF Aceh Barat Daya bersilaturrahmi dengan Najwa Nitami berserta keluarganya, dalam rombongan tersebut para Relawan BFLF Aceh Barat Daya, Wardiati, Yulizar,  Yona Novita yang didampingi oleh Dewan Pengawas BFLF Aceh Barat Daya, Dewi Ummi Aisyah. Seperti diceritakan oleh Wardiati As Sajida Adam  melalui dinding facebooknya “Thalasemia adalah kelainan darah yang diturunkan yang mana tubuh tidak memproduksi cukup Hemoglobin sehingga mengakibatkan jumlah Hemoglobin didalam tubuh sedikit. Saat tubuh kekurangan Hemoglobin, sel darah merah tidak bisa berfungsi dengan baik yang mengakibatkan seseorang terkena anemia dengan gejala mudah merasa lelah, lemah, bahkan sesak nafas.” Dalam rangka memperingati Hari Thallasemia Sedunia, Relawan BFLF Aceh Barat Daya bersilaturrahmi ke kediaman Najwa Nitai, di Gampong Kuta Tinggi, Kecamatan Blangpidie, Najwa adalah pasien Thallasemia dampingan BFLF Aceh Barat Daya yang saat ini sebenarnya sudah harus transfusi darah lagi namun terkendala karena ayahnya yang berprofesi sebagai sopir truk mengalami kecelakaan sekitar 2 (dua) bulan lalu dan menyebabkan kaki patah dan keadaannya sampai sekarang ini belum stabil apalagi lukanya masih basah. “Najwa sekarang lebih cepat lelah, matanya kadang-kadang sembab, dan kalau malam dia sering kali diminta kusuk karna badannya sakit-sakit. Mungkin penyebabnya karna selama 6 bulan terakhir ini Najwa belum pernah transfusi darah lagi,” Ungkap Ibu Najwa. Kini, Najwa duduk di Kelas I Sekolah Dasar (SD) Kuta Tinggi,  saat ini ada ujian sekolah kenaikan kelas. Ibu Najwa juga mengungkapkan kalau anaknya tersebut memiliki semangat yang luar biasa dalam belajar. Semangat yang tinggi ini kemudian membuat orang tua Najwa semakin bersemangat untuk membuat anaknya tegar dalam melawan penyakitnya tersebut. Semoga Najwa dan keluarga selalu diberikan kesehatan, umur panjang, mudah rezeki, dan selalu tegar dalam menerima setiap ujian ini. Dan juga untuk kita semua, semoga kita selalu dilapangkan hati, diberikan kekuatan, dan tergerak jiwa untuk berbagi dengan sesama Hamba. “Tidaklah sakit seorang Mukmin, laki-laki dan perempuan, dan tidaklah pula dengan seorang muslim, laki-laki dan perempuan, melainkan Allah S.W.T menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan hal itu, sebagaimana bergugurannya dedaunan dari Pohon (HR. Ahmad),”  Ujar Wardiati As Sajida Adam dalam dinding facebooknya. Sahabat, mari kita saling berbagi, membantu sesama pada yang membutuhkan. Salam Sayang Penuh Cinta Selalu dan Selalu Ada Cinta Untuk Cinta. BFLF Aceh Barat Daya.

SETETES DARAH DAN CINTA DAHLIA (Episod 7)

pembina-bflf-abdya-muslizar-mt-dan-ketua-bflf-abdya-nasruddin-oos

Pembina BFLF Aceh Barat Daya, Muslizar MT dan Ketua BFLF Aceh Barat Daya, Nasruddin Oos | Foto : Ist

Tak banyak yang harus diceritakan diantara banyaknya janji-janji seperti hujan sore itu, bukan sekedar menguyur tapi tak lagi memperlihatkan birunya langit.

Jalan becek, air terkenang masuki rumah-rumah didindingnya membuat batasan air bila telah surut, bahkan urusan bersih membersih adalah aktivitas warga, membersihkan barang barang rumah tangganya, kapan sekali-sekali gotong royong membersihkan saluran, saluran tertimbun pasir diatas jalan dibawa air setiap hujan menguyur.

Padahal, pingin kalilah berpayung daun pisang namun ditepi jalan terlewati tak ada lagi pakcek dan palot menanam pisang ditepi jalan seperti tempo dulu saat pulang sekolah dalam hujan. Beromantisan dengan kenangan terkadang mendesak menyesak dada.

Ah, kemana si Dahlia ini tanpa sedikit kabar pun dia berbagi dalam setahun terakhir, jangan-jangan dia sibuk dengan kampanye kandidat yang dia dambakan agar terpilih memimpin negeri ini. Sudahlah, ini pun musim politik, pesta demokrasi yang melibatkan semua warga yang sudah punya hak pilih dan terdaftar di daftar pemilih tetap seperti terkoar dari panitia penyelenggara pesta. Coba SMS sajalah kalau di call mana tahu dia lagi ada pertemuan tak diangkat bisa-bisa weuh hate keuh.

OOS ; Salam dek Dahlia, apakabarnya duhai wanita penyelembut hati. Adakah bahagia disana bersamamu atau hatimu diselimuti mendung hingga bening air mata atau senyum pancaran rona bahagia tak lagi terlihat. Bolehkan sedikit masih berbagi kabar?.

DAHLIA : Salam juga Bg OOS, salam juga Orang Orang Sinting, abg apa kabarnya? Bahagia mendengar kabar abg bahagia, akhirnya seorang OOS juga melepaskan masa lajangnya. Udah tak nangis lagi dek bg, selepas hari itu menentukan sikap cinta dan pengabdian yang memang harus sehat. Selebihnya kabar adek penuh senyum rona bahagia bersama orang orang tercinta.

OOS ; Alhamduillah, semoga selalu penuh rona senyum bahagia dalam berbagi dan membantu sesame ya dek. Cinta memang penuh hal hal menakjubkan, terkadang pula diluar nalar tetap mengagumkan ya dek.

DAHLIA : Eh gimana ni aktivitas pendampingan kepada relawan pendonor darah untuk pasien yang membutuhkan darah bg, apa masih banyak yang takut sama jarum suntik ya bg. Dahlia jadi terpikir gini, pas abg BC dibutuhkan darah dan bg upload di facebook, ngeri kali lah dibaca BC OOS dan status OOS sering tentang darah yang menyakitkan dan menakutkan, hingga bg kan, nggak ada yang mau balas atau koment untuk sesuatu yang menakutkan, pun pernah dek baca yg koment di FB abg itu pun dibuat dalam bahasa canda bahwa dia jenuh membaca postingan itu.

OOS : Insha Allah masih, meskipun kini menetap diperbatasan Banda Aceh dengan Aceh Besar aktivitas itu masih kita lakukan bersama kawan-kawan. Apalagi kawan-kawan sudah bertambah yang sudi melakukan mendampingi pendonor dan pasien. Ya nggak boleh berpikir gitu dek,itu kan nggak positif banget pemikirannya, nggak dibalas BC kita, nggak dikoment di FB bukan berarti takut donor darah. Kita berpikir jernih sajalah, mana mungkin status itu tidak terlihat “seksi” hingga tak dilirik sedikitpun untuk digoda.

DAHLIA : ih seksi ni ye, hahahaha bg OOS genit ah. Tapi senanglah. Oh ya bg OOS, Dahlia mau tanya ni, akhir-akhir ini postingan abg kok terlihat banyak seperti pencitraan ya bg, bukan hanya abg sich, kawan-kawan di Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya jugaterlihat demikian kek kompak gitu dek lihat bg. Siapa tu namanya bg, Pak Muslizar MT ya? Apa hubungannya dengan BFLF selama ini bg OOS.? Seharusnya bg OOS jangan berpolitik tapi focus saja pada kegiatan kemanusiaan dan fotografer bg.

OOS ;  Oh dek Dahlia yang berbaik hatinya, rupanya itu ya udah hampir dalam setahun ini tak berbagi kabar. Apa perlu kali bg jelaskan tentang keterlibatan bg Muslizar MT dan terlibatnya dalam aktivitas BFLF Aceh Barat Daya. Apa benar seharusnya seorang OOS tidak boleh berpolitik dek? Bukankah memilih dan dipilih itu sudah ada aturannya di Negara yang katanya berdemokrasi ini.

DAHLIA : Perlulah bg, biar dek nggak salah duga, kalau udah ada penjelasan dari bg OOS kan bisa adek tahu tentang ketahuan bg dalam politik itu.

OOS ; baiklah dek, bg mulai dari cikal bakalnya saja dulu ya. Berawal dari main-mainnya kami ke BLU RSUD Teungku Peukan pada akhir tahun 2013, menelusuri lorong lorong dirumah sakit hingga dipojok itu terdapat sebuah kantin, tak begitu jauh dari kamar jenazah terdapat sebuah bangunan Unit Transfusi Darah, jelas kami tak paham lah itu.

Hanya memesan kopi dari sebuah kantin didepan bangunan tempat mencuci kain baik bekas alas kasur pasien maupun kain-kain yang dipakai untuk operasi, didepannya ada kantin yang kami lihat maka duduk kami disana, setelah memesan kopi pancung yang harganya seribu dalam gelas kecil, beberapa orang terlihat keluar dari ruang bangunan UTD dengan wajah pucat, bekas tetesan air mata masih menghuni wajah berkulit sawo matang yang sedikit keriput, dan dari arah yang berbeda terlihat pula empat orang  seperti orang kepanitan.

Biar secepatnya tahu akhirnya, bertanya pada orang kantin tentang ruang apa itu. Dikatakan sama Pak kantin itu bahwa itu yang masuk dan keluar tadi keluarga pasien sedang membutuhkan darah untuk keluarganya, dan stok darah disini terbatas sekali, maka setiap pasien yang perlu darah harus mencari pendonor darah sendiri.

Kembali menikmati kopi, tiba-tiba HP berbunyi melihat dengan segera siapa yang BBM, rupanya ada yang BC pin, dengan bahasa “invite ya teman aku, orangnya cantik, nggak sombong dan enak diajak chat.” Apa pula ini, bg hapus saja, lima menit kemudian masuk lagi BBM dari orang yang sama juga tentang BC pin ya didelete aja di kontak BBM biar cepat selesai.

Diskusilah bersama teman-teman, kita semua aktif di media sosial, kenapa tidak kita gunakan saja media sosial ini untuk menghilangkan kepanitan dan keresahan orang lain. Kalau orang BC pin, BC produk, kita BC saja tentang orang yang perlu darah, di HP kita ka nada daftar kontak teman-teman yang lain, mana tahu ada yang mau mendonorkan darah nanti.

Waktu itu, kita mau buat Bank Darah Abdya, hingga kita buatlah status di FB dan BBM. Terdapat komentar bahwa lembaga yang bergerak dalam bidang yang sama sudah ada dan ada beberapa lembaga, seperti Galery Darah Aceh, Blood For Life Foundation. Dari koment FB tersebut  dibilanglah sama Popy, bagaimana kalau kita bersatu saja dalam satu nama, kapan bg OOS ke Banda nanti kita duduk dan Popy ajak Bg Micheal.

Lantaran sibuk dengan aktivitas, menulis di Media online, di Tabloid Sigupai yang diterbitkan oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Sejahtera (BPMPPKS) Aceh Barat Daya dan juga terlibat sebagai fasilitator Pelatihan dan Kampanye dalam program pelayanan bermutu bersama lembaga PEKKA dan LP3A yang didanai oleh LOGICA, serta juga sebagai anggota di P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Aceh Barat Daya, yang kala itu ada beberapa kasus kekerasan pada anak dan kekerasan seksual  serta kekerasan dalam rumah tangga yang  dilakukan pendampingan walau tidak sampai ke pengadilan, hingga tidak sempat ke Banda Aceh duduk tiga serangkai.

Akhir tahun 2013 dan awal tahun 2014 itu juga musim politik, musim pemilihan para parlementer, legislator penyambung suara-suara rakyat. Banda Aceh dibulan Februari 2014 disalah satu teras warung kopi diseputaran simpang lima kita duduk berbicara disana, Oos, Popy dan Michael. Diskusi tersebut bahwa kita akan bersatu dalam sebuah nama Blood For Life Foundation atau di singkat BFLF, tapi Oos sering menyebutnya Blood For Love (darah untuk cinta).

Akhir bulan februari 2014, bg Muslizar MT itu dek Dahlia sudah mengatakan diri untuk bergabung, sementara waktu itu BFLF Aceh Barat Daya belum kita publis, tapi karena itu musim politik maka kita bilang, kita akan umum bahwa Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya pada 15 April 2014 setelah enam hari pencoblosan pemilihan DPRK, DPRA,DPRRI dan DPD. Sementara itu kita masih berbicara pada akhir februari 2014.

Singkat cerita, BC tentang darah kita mulai pada tanggal 15 april 2014.  Semenjak tahun 2014 Muslizar MT sudah aktif mencari pendonor darah, meskipun beliau tidak pandai melakukan BC di BBM waktu itu. Sampai jam 10 malam masih duduk didepan UTD mendampingi pendonor memang tidak tiap malam.

Memang masih sebagai anggota DPRK Aceh Barat Daya yang menghabiskan tahun terakhir periodenya, bahkan pernah kita bahas untuk memiliki bank darah sendiri tetapi secara aturan itu tidak boleh. Makanya BFLF hanya sebagai relawan pencari pendonor darah, mendampingi pendonor dan pasien kurang mampu.

muslizar-mt

Pembina Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya, Muslizar MT | Foto : Sifral Jamil

Kini, juga musim politik, berkecimpung dalam politik tapi masih aktif menyalurkan hobi mendampingi pasien lalu tersebutlah itu pencitraan. Ketika ada pasien yang perlu darah dan menelpon apa harus kita bilang tunggu selesai pilkada dulu, ketika ada pasien butuh kemoterapi sementara uang menuju ke Banda tidak dimiliki, lagi pun BFLF Aceh Barat Daya punya mobil ambulance bantuan Bank Aceh karena ketidak terikatan dengan pemerintah dan lembaga tanpa donor. Selain Muslizar MT kita juga punya Pembina beberapa orang lagi seperti Ibu Rabiatul Adawiyah, Kak Safliati, Kak Iik, Kak Dewi, Kak Yanti, Kak Dian, kak Sri Hadayani, bg Harmansyah, Cuma lantaran abg dan kakak lain punya kesibukan. Kalau ada acara baru turun kelapangan baik untuk konsultasi kulit dan kecantikan, konsultasi penanganan kekerasan dalam rumah tangga, konseling dan bimbang lainnya.

Dari dulu sering upload foto kegiatan, pendampingan tapi nggak jadi perhatian ya dek Dahlia, lantaran sekarang Bang Muslizar MT sebagai Wakilnya Akmal Ibrahim dalam Pilkada 2017, saat Akmal Ibrahim sebagai calon Bupati Aceh Barat Daya 2017-2022 memilih Muslizar MT untuk wakilnya hingga dek Dahlia sebut itu pencitraan, akan tetapi setiap aktivitas Muslizar MT tetap selaku Pembina BFLF Aceh Barat Daya, ya tak apa dek. Itu sebuah kewajaran dan kalaupun itu sebagai pencitraan tidak melanggarkan secara Undang Undang, tersebab ukuran ikhlas hanya ada dihati. Dek Dahlia, ngantuk ya bacanya, karena bertele-tele lagi abg tulis, sampai terkirim berapa halaman ya, pasti bosan tu, hehehehe.

DAHLIA : Jadi, pak Muslizar MT itu sudah ada sejak awal bergerak BFLF Aceh Barat Daya bg OOS ya, bukan karena musim Pilkada ini ya, dek pikir baru-baru inilah bg. Hehehehe baru ingat dek bg, Pak Muslizar MT itu yang datang ke Ruang Rindu B saat nenek Dahlia perlu Darah B dan pacar Dahlia waktu itu nggak berani donor darah ya bg Oos. Ih bg Oos ni, benci li lah kita, nggak dibilangnya kalau bapak itu adalah Pak Muslizar MT.

OOS ; ya, Dek ja kek menghindar gitu, bagaiman bisa bilang. Nah, jika mau kupas tuntas tentang Pencitraan Musizar MT selaku Pembina BFLF Aceh Barat Daya, kita ngopi aja dek Dahlia ya, ajak kawan-kawannya.

DAHLIA : bg OOS kan di Banda, sementara Dahlia ada di Blangpidie, kek mana bisa ngopi sama bg OOS, kek mana sich bg OOS ini.

OOS ; kalau ntar abg nggak sempat ngopi sama adek, ya adek dan kawan-kawan ngopi aja sama Pembina BFLF Aceh Barat Daya, Muslizar MT, Tanya aja tentang aktifitas dan pendampingan serta bagaimana kedepan. Kan gampang itu, sementara abg di Banda tetap ngopi dek.

DAHLIA : Ntar Dahlia kabari dulu sama kawan-kawan ya bg Oos, ntar Dahlia kabari sama bg OOS ya, kalau ntar ada bg OOS kan bisa belajar buat kue Bolu, di uploadnya foto buat bolu tidak dibaginya bolu buat Dahlia.

OOS : Insha Allah adek ya, ntar kita buat kue ya apalagi kalau adek ke Banda,ntar kan bisa buat bolu bareng kakak dirumah, oh ya dek, kapan kapan kita komunikasi lagi ya, maaf karena ini abg mau ke RSUDZA dulu, ada pasien yang baru tiba dari Aceh Singkil, dan ini juga bukan pencitraan  ya, jangan ntar dibilang “POLITIK CINTA OOS”.

DAHLIA : oke bg OOS, salam ya sama kakak, dan salam juga sama pasiennya semoga lekas sembuh. Tetap semangat ya bg OOS, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah.

Kembali ke jalan, menelusuri areal perbatasan kota dengan kabupaten ini melewati beberapa kedai kopi kiri dan kanan sebelum tiba di RSUDZA. Dijalan hati-hatilah, jangan ngebut, jangan buang darah anda sia-sia dijalan mending di donor saja.

 

Salam Sayang penuh cinta selalu dan selalu ada cinta untuk cinta

Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya

NASRUDDIN OOS

Lampermai, Cot Iri – Ulee Kareng. 6 desember 2016, pukul 11:06 WIB

Bersama ERCI, BFLF Adakan Donor Darah Peduli Thalassemia

peduli thalassemia

BFLF – Berbagai kegiatan positif digelar komunitas Suzuki Ertiga. Kali ini, datang dari keluarga Ertiga Banda Aceh, yang tergabung dalam Ertiga Club Indonesia (ERCI) Chapter Aceh. Acara ini di  showroom PT Armada Banda Jaya dengan tema ‘Setetes darah Anda, kehidupan bagi mereka’.

Acara ini digelar sebagai bentuk kepedulian sekaligus ajang silaturahmi keluarga Ertiga dengan pederita Thalassemia. Sebagai catatan, Thalassemia merupakan kelainan darah yang sifatnya menurun (genetik), di mana penderitanya mengalami ketidakseimbangan dalam produksi hemoglobin (Hb).

Selain diikuti komunitas Ertiga dan anak-anak penderita Thalassemia, acara ini juga dimeriahkan dengan bergabungnya Blood For Life Foundation (BFLF) dan beberapa customer Suzuki yang ada di Banda Aceh dan daerah sekitarnya.

Dalam kesempatan itu, Branch Manager Suzuki Armada Banda Jaya, Khairul Misbah menegaskan bahwa kegiatan sosial ini diadakan sebagai bentuk kepedulian Suzuki terhadap penderita Thalassemia khususnya di Aceh.

Diharapkan, dengan terselenggaranya acara ini, beban anak-anak penderita Thalassemia akan berkurang, sekaligus dapat mengetuk pintu hati masyarakat Aceh untuk lebih peduli kepada anak-anak penderita Thalassemia.

Menurut Michael Octaviano selaku Ketua BFLF, di Aceh saat ini terdapat lebih dari 250 anak yang menderita Thalassemia. Dan untuk setiap anak penderita Thalassemia paling tidak membutuhkan 2 kantung darah setiap bulannya.

“Salah satu orangtua penderita Thalassemia bernama Pak Ilyas dari Aceh Selatan, selama tiga tahun harus ke rumah sakit setiap bulannya, dengan mengendarai sepeda motor bersama istrinya,” kata Octaviano.

“Mereka harus menempuh perjalanan selama 24 jam menuju Banda Aceh bersama anaknya yang menderita Thalassemia sejak usia dua tahun,” lanjut Octaviano.

Dalam kegiatan donor darah ini, ERCI berhasil mengumpulkan sebanyak 33 kantong darah. Selain kegiatan donor darah, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan berbagai acara hiburan untuk menghadirkan senyuman bagi anak-anak penderita Thalassemia yang selama ini harus menderita.

Source: Viva