BFLF Bagikan 30 Nasi Bungkus Tiap Hari

Relawan BFLF Aceh membagikan nasi bungkus

BFLF Aceh – Perempuan itu berjalan menyambangi setiap keluarga pasien. Tangan kanannya menenteng plastik biru. Di dalamnya, terlihat beberapa kotak atau bungkusan nasi. Ia adalah relawan Blood For Life Fundations (BFLF), komunitas yang bergerak di bidang mediator darah.

Siang itu, sejumlah relawan BFLF menyambangi Rumah Sakit Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Kedatangan mereka untuk membagikan 30 bungkus nasi kepada keluarga pasien. Keluarga penderita penyakit thalassemia, hemofili anak, dan kanker anak mereka sambangi. Setelah berbasa-basi sejenak, para relawan ini kemudian menyerahkan bekal makan siang.

“Setiap hari kami menyediakan minimal 30 bungkus nasi untuk kami bagikan kepada keluarga pasien tiga penyakit itu. Tujuannya untuk meringankan beban mereka,” kata Founder BFLF Michael Oktaviano, kepada detikcom, Sabtu (17/10/2015).

Program memberikan nasi makan siang keluarga pasien ini sudah berlangsung sejak enam bulan silam. Para relawan BFLF ini memperoleh nasi dari para donatur tetap maupun donatur tidak tetap. Saban siang, beberapa relawan diutus untuk mengantar nasi kepada keluarga pasien yang dirawat di RSUZA. Mereka rata-rata mendapat jatah bervariasi. Tergantung jumlah orang yang mengawal pasien.

“Biasanya kami memberi dua bungkus kalau keluarganya banyak,” jelasnya.

Ide program ini berawal dari keprihatinan relawan BFLF terhadap sejumlah keluarga pasien. Mereka rata-rata datang dari luar Banda Aceh dan kekurangan biaya selama di rumah sakit. Untuk mengurangi beban mereka, BFLF berinisiatif membantu. Awalnya memang bukan perkara mudah bagi relawan BFLF untuk membantu mereka.

Selain terkendala biaya, mereka juga belum punya donatur tetap kala itu. Setelah gencar melobi, akhirnya menemukan dua rumah makan yang mau bergabung. Untuk nasi yang dibagi pun waktu itu bukan 30 bungkus. Tapi hanya 25 bungkus. Para relawan ini membagikannya kepada keluarga pasien yang benar-benar kurang mampu.

“Fokus kita untuk keluarga kurang mampu. Karena rata-rata penderita penyakit thalassemia, kanker, atau hemofilia ini berasal dari keluarga kurang mampu,” ungkap Michael.

ketua BFLF membagikan nasi kepada keluarga pasien

Kini, para relawan BFLF juga masih mengalami sejumlah kendala dalam membagi-bagikan nasi makan siang. Antara lain, sering tidak cukup nasi pada hari-hari tertentu. Michael bercerita, pada hari Senin hingga Kamis biasanya sering tidak cukup nasi. Hal itu karena banyaknya pasien yang berobat. Namun ada juga hari-hari yang kelebihan nasi karena tidak banyak pasien.

Tujuan pemberian makan siang ini selain meringankan beban, juga untuk memberi ketenangan kepada keluarga pasien. Ini dilakukan agar mereka rajin membawa anggota keluarganya berobat dan tidak berpikir biaya lagi. Selama ini, banyak pasien thalassemia, kanker anak yang datang dari berbagai daerah di Aceh sering mengeluh soal biaya.

Kehadiran komunitas ini disambut positif keluarga pasien. Bahkan jika para relawan telat datang, keluarga pasien mulai bertanya-tanya. Mereka sebagian menunggu anggota BFLF di luar ruangan dan ada juga yang menunggu di dalam.

“Kami mendatangi setiap kamar untuk menyerahkan langsung pada keluarga pasien. Sekarang kami fokusnya untuk penyakit itu. Tapi kalau ada nasi lebih kami juga akan memberikan untuk keluarga pasien penderita penyakit lain,” jelas Michael.

BFLF digagas oleh Michael pada 2009 silam. Ide awal pendirian komunitas ini karena saat itu kebutuhan darah untuk penderita thalassemia di Aceh semakin banyak. Persediaan darah kerap tidak cukup. Para relawan BFLF ini akhirnya menjadi mediator darah untuk mencari pendonor yang mau mendonorkan darah mereka.

“Tiga penyakit itu memang paling banyak membutuhkan darah,” ungkapnya.

Beberapa waktu lalu, komunitas BFLF ini mendapat penghargaan lima besar tingkat nasional dari Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Sertifikat prestasi itu diteken langsung oleh Mensos dan diberikan pada 20 Desember 2014 lalu.

Selain menyediakan makan siang gratis, komunitas ini juga mendirikan rumah singgah di kawasan Lampineung, Banda Aceh. Tujuannya, agar keluarga pasien yang tidak punya tempat tinggal bisa menginap di sana selama berobat. Rumah itu dapat menampung tiga keluarga pasien.

Bukan itu saja, komunitas  BFLF juga menggelar Travelling For Humanity ke Pulo Aceh, Aceh Besar dan pedalaman Lhokseumawe. Kegiatan ini rutin digelar dua bulan sekali. Kegiatan tersebut bertujuan untuk berbagi untuk misi sosial dan kemanusiaan yang berfokus pada pendidikan dan kesehatan daerah terpencil.

“Harapannya masyarakat di daerah terpencil terbantu dari segi pendidikan dan kesehatan,” katanya.[]

Source: Detiknews

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *