Archives

now browsing by author

 

BFLF Salurkan Bantuan Tahap Pertama untuk Korban Gempa Pidie Jaya

img_7049-edit-serah-bantuan

Ketua Umum BFLF Pusat, Michael O Alexander Chan menyerahkan bantuan obat yang langsung diterima oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie Jaya yang turut didampingi oleh Ketua BFLF Aceh Barat Daya, Nasruddin Oos | Foto : Brian Shinobi

BFLF.or.id | Banda Aceh – Blood For Life Foundation (BFLF) telah menyalurkan bantuan tahap pertama untuk korban gempa Aceh yang berada di Kabupaten Pidie Jaya. Ujar Michael O Alexander Chan, Kamis, 8 desember 2016 di Banda Aceh.

“Kemaren (Rabu.red) langsung ke lapangan untuk menyalurkan bantuan, pada hari pertama gempa ini kita salurkan bantuan dari masyarakat berupa air mineral, makanan untuk anak-anak dan obat-obatan.”

Bantuan yang diserahkan BFLF pada tahap pertama donasi dari Masyarakat yang di amanahkan kepada BFLF untuk korban Gempa Aceh di kabupaten Pidie Jaya berupa obat-obatan dan makanan yang sangat mendesak . Adapun obat-obatan yang disalurkan langsung ke RSUD Pidie Jaya dan diterima langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Pidie Jaya berupa;

Antasida Don 9.Paracetamol Tab, Asam Mefenamat 500 10.Infuset GEA, Alkohol 705 300 ml 11.Novadex, Betadin Sol 15 Ml 12.Kasa Hidrofil, CTM 100s 13.Serenity IV, Hansaplas 1226 14. Amoxilin 500 nova, Kapas 100 gram 15.Ranitidin Tab, Verian 16 Cm 16. Ringer Fundin.

“Kadis Kesehatan Pidie Jaya sangat berterima kasih kepada donatur dan BFLF atas atas bantuan obat-obatan karena kebutuhan yang mendesak untuk pasien korban gempa berupa patah tulang, pendarahan, nyeri agar segera diatasi,” Kata Michael

Pada saat penyerahan bantuan kondisi IGD RSUD Pidie Jaya penerangan masih gelap dan ada pasien yang ditangani luka akibat gempa dibantu pihak dokter dan para medis lainnya dengan memakai penerangan Handphone, sedangkan pihak PLN lagi mengusahakan genset.

serah-bantuan

Ketua Umum BFLF Pusat, Michael O Alexander Chan menyerahkan bantuan komplet TKA, TPA, TPQ Al-Istiqamah Gampong Meunasah Bie Kecamatan Meurah Dua Kabupaten Pidie Jaya yang turut didampingi oleh Ketua BFLF Aceh Barat Daya, Nasruddin Oos | Foto : Brian Shinobi

Sedangkan bantuan makanan ringan dan minuman mineral kotak BFLF menyalurkan ke tempat pengungsian di komplet TKA, TPA, TPQ Al-Istiqamah Gampong Meunasah Bie Kecamatan Meurah Dua Kabupaten Pidie Jaya. Di lokasi tersebut menampung pengungsi masyarakat dari 5 (lima) desa atau Gampong.

Penyerahan dilakukan langsung ke masyarakat yang berada di pelataran mesjid Al Munawarah di saksikan oleh Camat Merdue Safrizal, SSTP dan kordinator logistik pengungsian. Untuk penyaluran tahap kedua BFLF akan lebih fokus kepada sembako bukan mie kemasan, biscuit dan susu anak dan balita serta perlengkapan pampers dan perlengkapan wanita seperti pembalut dan makanan ringan lainnya.

Selain hal tersebut ada juga titik-titik pengungsian yang belum tersentuh bantuan yaitu di Jurong Ara, Meunasah Raya Kecamatan Jangka Buya dan Siblah Coh Kecamatan Ulim. Bagi Masyarakat Banda Aceh dan Sekitarnya BFLF membuka Posko di Rumah Singgah BFLF jalan. PARI NO.22 LAMPRIT atau di belakang Hotel Kuala Radja – Banda Aceh. BFLF juga akan menyiapkan kebutuhan obat untuk diterjunkan ke lokasi bencana. Mari bergerak bersama, bantu korban gempa Aceh. Rekening donasi : BRI 334001022415535 Blood For Life Foundation Konfirmasi transfer/donasi; Michael WA 081260852973.[]

Ambulance dan Relawan BFLF Menuju Lokasi Gempa

1481096863968

Ketua BFLF Pusat, Michael O Alexander Chan (depan) dan Ketua BFLF Aceh Barat Daya, Nasruddin Oos | Foto : Ist

BFLF.or.id | Banda Aceh – Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Pusat, Michael O Alexander Chan bersama rombongan menuju lokasi gempa Pidie dan Pidie Jaya, Rabu 7 Desember 2016.

Rombongan BFLF berangkat menuju ke lokasi siang hari ini dengan ambulance dan  membawa obat-obatan yang akan diberikan kepada korban gempa

“Berdasarkan informasi di lapangan, telah ditemukan 25 orang yang meninggal karena terkena runtuhan bangunan dan ada kemungkinan jumlah korban akan bertambah,” Ujar Michael.

Kemudian kata Michael, “menurut info dari Relawan BFLF yang sudah berada di Lokasi bahwa ambulance sangat dibutuhkan karena masyarakat korban Gempa di Pidie Jaya terus berdatangan memakai mobil Pick Up , Kebanyakan kasus patah tulang, luka robek dan pendarahan.”

15390890_1496071827087410_415425359473566749_n

Foto Korban Gempa Pidie Jaya dari berbagai sumber | Foto : Ist

Lanjut Michael “Sementara sangat dibutuhkan obat-obatan antibiotik seperti anti pendarahan, anti nyeri, benang jahit, salap luka, cairan infus dan Bidai.”

Kemudian, makanan dan snack juga dibutuhkan karena pasien di seluruh Rumah Sakit Sigli baik Pemerintah maupun Swasta full sedangkan rumah makan banyak yang tutup sehingga keluarga susah mencari makanan.

Bagi Masyarakat Banda Aceh dan Sekitarnya BFLF membuka Posko di Rumah Singgah BFLF jalan. PARI NO.22 LAMPRIT DI Belakang Hotel Kuala Radja Banda Aceh. Rencana tim pertama adalah membantu evakuasi korban ke rumah sakit dan membuka posko segar, membuka dapur umum, dan distribusi bantuan logistik.

BFLF juga akan menyiapkan kebutuhan obat untuk diterjunkan ke lokasi bencana. Mari bergerak bersama, bantu korban gempa Aceh. Rekening donasi : BRI 334001022415535 An. Blood For Life Foundation. Konfirmasi transfer atau donasi; Michael WA 081260852973, Nona WA 08236738678.[]

SETETES DARAH DAN CINTA DAHLIA (Episod 7)

pembina-bflf-abdya-muslizar-mt-dan-ketua-bflf-abdya-nasruddin-oos

Pembina BFLF Aceh Barat Daya, Muslizar MT dan Ketua BFLF Aceh Barat Daya, Nasruddin Oos | Foto : Ist

Tak banyak yang harus diceritakan diantara banyaknya janji-janji seperti hujan sore itu, bukan sekedar menguyur tapi tak lagi memperlihatkan birunya langit.

Jalan becek, air terkenang masuki rumah-rumah didindingnya membuat batasan air bila telah surut, bahkan urusan bersih membersih adalah aktivitas warga, membersihkan barang barang rumah tangganya, kapan sekali-sekali gotong royong membersihkan saluran, saluran tertimbun pasir diatas jalan dibawa air setiap hujan menguyur.

Padahal, pingin kalilah berpayung daun pisang namun ditepi jalan terlewati tak ada lagi pakcek dan palot menanam pisang ditepi jalan seperti tempo dulu saat pulang sekolah dalam hujan. Beromantisan dengan kenangan terkadang mendesak menyesak dada.

Ah, kemana si Dahlia ini tanpa sedikit kabar pun dia berbagi dalam setahun terakhir, jangan-jangan dia sibuk dengan kampanye kandidat yang dia dambakan agar terpilih memimpin negeri ini. Sudahlah, ini pun musim politik, pesta demokrasi yang melibatkan semua warga yang sudah punya hak pilih dan terdaftar di daftar pemilih tetap seperti terkoar dari panitia penyelenggara pesta. Coba SMS sajalah kalau di call mana tahu dia lagi ada pertemuan tak diangkat bisa-bisa weuh hate keuh.

OOS ; Salam dek Dahlia, apakabarnya duhai wanita penyelembut hati. Adakah bahagia disana bersamamu atau hatimu diselimuti mendung hingga bening air mata atau senyum pancaran rona bahagia tak lagi terlihat. Bolehkan sedikit masih berbagi kabar?.

DAHLIA : Salam juga Bg OOS, salam juga Orang Orang Sinting, abg apa kabarnya? Bahagia mendengar kabar abg bahagia, akhirnya seorang OOS juga melepaskan masa lajangnya. Udah tak nangis lagi dek bg, selepas hari itu menentukan sikap cinta dan pengabdian yang memang harus sehat. Selebihnya kabar adek penuh senyum rona bahagia bersama orang orang tercinta.

OOS ; Alhamduillah, semoga selalu penuh rona senyum bahagia dalam berbagi dan membantu sesame ya dek. Cinta memang penuh hal hal menakjubkan, terkadang pula diluar nalar tetap mengagumkan ya dek.

DAHLIA : Eh gimana ni aktivitas pendampingan kepada relawan pendonor darah untuk pasien yang membutuhkan darah bg, apa masih banyak yang takut sama jarum suntik ya bg. Dahlia jadi terpikir gini, pas abg BC dibutuhkan darah dan bg upload di facebook, ngeri kali lah dibaca BC OOS dan status OOS sering tentang darah yang menyakitkan dan menakutkan, hingga bg kan, nggak ada yang mau balas atau koment untuk sesuatu yang menakutkan, pun pernah dek baca yg koment di FB abg itu pun dibuat dalam bahasa canda bahwa dia jenuh membaca postingan itu.

OOS : Insha Allah masih, meskipun kini menetap diperbatasan Banda Aceh dengan Aceh Besar aktivitas itu masih kita lakukan bersama kawan-kawan. Apalagi kawan-kawan sudah bertambah yang sudi melakukan mendampingi pendonor dan pasien. Ya nggak boleh berpikir gitu dek,itu kan nggak positif banget pemikirannya, nggak dibalas BC kita, nggak dikoment di FB bukan berarti takut donor darah. Kita berpikir jernih sajalah, mana mungkin status itu tidak terlihat “seksi” hingga tak dilirik sedikitpun untuk digoda.

DAHLIA : ih seksi ni ye, hahahaha bg OOS genit ah. Tapi senanglah. Oh ya bg OOS, Dahlia mau tanya ni, akhir-akhir ini postingan abg kok terlihat banyak seperti pencitraan ya bg, bukan hanya abg sich, kawan-kawan di Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya jugaterlihat demikian kek kompak gitu dek lihat bg. Siapa tu namanya bg, Pak Muslizar MT ya? Apa hubungannya dengan BFLF selama ini bg OOS.? Seharusnya bg OOS jangan berpolitik tapi focus saja pada kegiatan kemanusiaan dan fotografer bg.

OOS ;  Oh dek Dahlia yang berbaik hatinya, rupanya itu ya udah hampir dalam setahun ini tak berbagi kabar. Apa perlu kali bg jelaskan tentang keterlibatan bg Muslizar MT dan terlibatnya dalam aktivitas BFLF Aceh Barat Daya. Apa benar seharusnya seorang OOS tidak boleh berpolitik dek? Bukankah memilih dan dipilih itu sudah ada aturannya di Negara yang katanya berdemokrasi ini.

DAHLIA : Perlulah bg, biar dek nggak salah duga, kalau udah ada penjelasan dari bg OOS kan bisa adek tahu tentang ketahuan bg dalam politik itu.

OOS ; baiklah dek, bg mulai dari cikal bakalnya saja dulu ya. Berawal dari main-mainnya kami ke BLU RSUD Teungku Peukan pada akhir tahun 2013, menelusuri lorong lorong dirumah sakit hingga dipojok itu terdapat sebuah kantin, tak begitu jauh dari kamar jenazah terdapat sebuah bangunan Unit Transfusi Darah, jelas kami tak paham lah itu.

Hanya memesan kopi dari sebuah kantin didepan bangunan tempat mencuci kain baik bekas alas kasur pasien maupun kain-kain yang dipakai untuk operasi, didepannya ada kantin yang kami lihat maka duduk kami disana, setelah memesan kopi pancung yang harganya seribu dalam gelas kecil, beberapa orang terlihat keluar dari ruang bangunan UTD dengan wajah pucat, bekas tetesan air mata masih menghuni wajah berkulit sawo matang yang sedikit keriput, dan dari arah yang berbeda terlihat pula empat orang  seperti orang kepanitan.

Biar secepatnya tahu akhirnya, bertanya pada orang kantin tentang ruang apa itu. Dikatakan sama Pak kantin itu bahwa itu yang masuk dan keluar tadi keluarga pasien sedang membutuhkan darah untuk keluarganya, dan stok darah disini terbatas sekali, maka setiap pasien yang perlu darah harus mencari pendonor darah sendiri.

Kembali menikmati kopi, tiba-tiba HP berbunyi melihat dengan segera siapa yang BBM, rupanya ada yang BC pin, dengan bahasa “invite ya teman aku, orangnya cantik, nggak sombong dan enak diajak chat.” Apa pula ini, bg hapus saja, lima menit kemudian masuk lagi BBM dari orang yang sama juga tentang BC pin ya didelete aja di kontak BBM biar cepat selesai.

Diskusilah bersama teman-teman, kita semua aktif di media sosial, kenapa tidak kita gunakan saja media sosial ini untuk menghilangkan kepanitan dan keresahan orang lain. Kalau orang BC pin, BC produk, kita BC saja tentang orang yang perlu darah, di HP kita ka nada daftar kontak teman-teman yang lain, mana tahu ada yang mau mendonorkan darah nanti.

Waktu itu, kita mau buat Bank Darah Abdya, hingga kita buatlah status di FB dan BBM. Terdapat komentar bahwa lembaga yang bergerak dalam bidang yang sama sudah ada dan ada beberapa lembaga, seperti Galery Darah Aceh, Blood For Life Foundation. Dari koment FB tersebut  dibilanglah sama Popy, bagaimana kalau kita bersatu saja dalam satu nama, kapan bg OOS ke Banda nanti kita duduk dan Popy ajak Bg Micheal.

Lantaran sibuk dengan aktivitas, menulis di Media online, di Tabloid Sigupai yang diterbitkan oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Sejahtera (BPMPPKS) Aceh Barat Daya dan juga terlibat sebagai fasilitator Pelatihan dan Kampanye dalam program pelayanan bermutu bersama lembaga PEKKA dan LP3A yang didanai oleh LOGICA, serta juga sebagai anggota di P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Aceh Barat Daya, yang kala itu ada beberapa kasus kekerasan pada anak dan kekerasan seksual  serta kekerasan dalam rumah tangga yang  dilakukan pendampingan walau tidak sampai ke pengadilan, hingga tidak sempat ke Banda Aceh duduk tiga serangkai.

Akhir tahun 2013 dan awal tahun 2014 itu juga musim politik, musim pemilihan para parlementer, legislator penyambung suara-suara rakyat. Banda Aceh dibulan Februari 2014 disalah satu teras warung kopi diseputaran simpang lima kita duduk berbicara disana, Oos, Popy dan Michael. Diskusi tersebut bahwa kita akan bersatu dalam sebuah nama Blood For Life Foundation atau di singkat BFLF, tapi Oos sering menyebutnya Blood For Love (darah untuk cinta).

Akhir bulan februari 2014, bg Muslizar MT itu dek Dahlia sudah mengatakan diri untuk bergabung, sementara waktu itu BFLF Aceh Barat Daya belum kita publis, tapi karena itu musim politik maka kita bilang, kita akan umum bahwa Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya pada 15 April 2014 setelah enam hari pencoblosan pemilihan DPRK, DPRA,DPRRI dan DPD. Sementara itu kita masih berbicara pada akhir februari 2014.

Singkat cerita, BC tentang darah kita mulai pada tanggal 15 april 2014.  Semenjak tahun 2014 Muslizar MT sudah aktif mencari pendonor darah, meskipun beliau tidak pandai melakukan BC di BBM waktu itu. Sampai jam 10 malam masih duduk didepan UTD mendampingi pendonor memang tidak tiap malam.

Memang masih sebagai anggota DPRK Aceh Barat Daya yang menghabiskan tahun terakhir periodenya, bahkan pernah kita bahas untuk memiliki bank darah sendiri tetapi secara aturan itu tidak boleh. Makanya BFLF hanya sebagai relawan pencari pendonor darah, mendampingi pendonor dan pasien kurang mampu.

muslizar-mt

Pembina Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya, Muslizar MT | Foto : Sifral Jamil

Kini, juga musim politik, berkecimpung dalam politik tapi masih aktif menyalurkan hobi mendampingi pasien lalu tersebutlah itu pencitraan. Ketika ada pasien yang perlu darah dan menelpon apa harus kita bilang tunggu selesai pilkada dulu, ketika ada pasien butuh kemoterapi sementara uang menuju ke Banda tidak dimiliki, lagi pun BFLF Aceh Barat Daya punya mobil ambulance bantuan Bank Aceh karena ketidak terikatan dengan pemerintah dan lembaga tanpa donor. Selain Muslizar MT kita juga punya Pembina beberapa orang lagi seperti Ibu Rabiatul Adawiyah, Kak Safliati, Kak Iik, Kak Dewi, Kak Yanti, Kak Dian, kak Sri Hadayani, bg Harmansyah, Cuma lantaran abg dan kakak lain punya kesibukan. Kalau ada acara baru turun kelapangan baik untuk konsultasi kulit dan kecantikan, konsultasi penanganan kekerasan dalam rumah tangga, konseling dan bimbang lainnya.

Dari dulu sering upload foto kegiatan, pendampingan tapi nggak jadi perhatian ya dek Dahlia, lantaran sekarang Bang Muslizar MT sebagai Wakilnya Akmal Ibrahim dalam Pilkada 2017, saat Akmal Ibrahim sebagai calon Bupati Aceh Barat Daya 2017-2022 memilih Muslizar MT untuk wakilnya hingga dek Dahlia sebut itu pencitraan, akan tetapi setiap aktivitas Muslizar MT tetap selaku Pembina BFLF Aceh Barat Daya, ya tak apa dek. Itu sebuah kewajaran dan kalaupun itu sebagai pencitraan tidak melanggarkan secara Undang Undang, tersebab ukuran ikhlas hanya ada dihati. Dek Dahlia, ngantuk ya bacanya, karena bertele-tele lagi abg tulis, sampai terkirim berapa halaman ya, pasti bosan tu, hehehehe.

DAHLIA : Jadi, pak Muslizar MT itu sudah ada sejak awal bergerak BFLF Aceh Barat Daya bg OOS ya, bukan karena musim Pilkada ini ya, dek pikir baru-baru inilah bg. Hehehehe baru ingat dek bg, Pak Muslizar MT itu yang datang ke Ruang Rindu B saat nenek Dahlia perlu Darah B dan pacar Dahlia waktu itu nggak berani donor darah ya bg Oos. Ih bg Oos ni, benci li lah kita, nggak dibilangnya kalau bapak itu adalah Pak Muslizar MT.

OOS ; ya, Dek ja kek menghindar gitu, bagaiman bisa bilang. Nah, jika mau kupas tuntas tentang Pencitraan Musizar MT selaku Pembina BFLF Aceh Barat Daya, kita ngopi aja dek Dahlia ya, ajak kawan-kawannya.

DAHLIA : bg OOS kan di Banda, sementara Dahlia ada di Blangpidie, kek mana bisa ngopi sama bg OOS, kek mana sich bg OOS ini.

OOS ; kalau ntar abg nggak sempat ngopi sama adek, ya adek dan kawan-kawan ngopi aja sama Pembina BFLF Aceh Barat Daya, Muslizar MT, Tanya aja tentang aktifitas dan pendampingan serta bagaimana kedepan. Kan gampang itu, sementara abg di Banda tetap ngopi dek.

DAHLIA : Ntar Dahlia kabari dulu sama kawan-kawan ya bg Oos, ntar Dahlia kabari sama bg OOS ya, kalau ntar ada bg OOS kan bisa belajar buat kue Bolu, di uploadnya foto buat bolu tidak dibaginya bolu buat Dahlia.

OOS : Insha Allah adek ya, ntar kita buat kue ya apalagi kalau adek ke Banda,ntar kan bisa buat bolu bareng kakak dirumah, oh ya dek, kapan kapan kita komunikasi lagi ya, maaf karena ini abg mau ke RSUDZA dulu, ada pasien yang baru tiba dari Aceh Singkil, dan ini juga bukan pencitraan  ya, jangan ntar dibilang “POLITIK CINTA OOS”.

DAHLIA : oke bg OOS, salam ya sama kakak, dan salam juga sama pasiennya semoga lekas sembuh. Tetap semangat ya bg OOS, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah.

Kembali ke jalan, menelusuri areal perbatasan kota dengan kabupaten ini melewati beberapa kedai kopi kiri dan kanan sebelum tiba di RSUDZA. Dijalan hati-hatilah, jangan ngebut, jangan buang darah anda sia-sia dijalan mending di donor saja.

 

Salam Sayang penuh cinta selalu dan selalu ada cinta untuk cinta

Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya

NASRUDDIN OOS

Lampermai, Cot Iri – Ulee Kareng. 6 desember 2016, pukul 11:06 WIB

Cor Pondasi Rumah Biyah Sudah Dikerjakan, Masih Dibutuhkan Uluran Tangan Dermawan

Warga Gampong Kota Bahagia sedang gotong royong membangun rumah Ibu Biyah. | Foto : Sifral Jamil

Warga Gampong Kota Bahagia sedang gotong royong membangun rumah Ibu Biyah. | Foto : Sifral Jamil

BFLF.or.id | ACEH BARAT DAYA – Pembangunan rumah untuk Biyah (56) janda miskin yang menempati rumah reot seorang diri telah dimulai dengan pondasi yang dilakukan secara gotong royong oleh warga gampong setempat.

Rumah dibangun untuk Biyah tersebut diatas tanah wakaf yang tidak jauh dari gubuk reot ditempati Biyah selama ini. Hanya berjarak sekitar 500 meter masih di Lorong Irigasi Gampong Kota Bahagia Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya.

Selama beberapa tahun terakhir janda miskin tanpa anak tersebut tinggal digubuk reot dengan menumpang dikebun milik orang, sehingga adiknya Nur Hayati mewakafkan tanahnya satu pintu untuk dibangun rumah Biyah. Menyakut Nur Hayati mewakafkan tanahnya sudah diutarakan kepada pengurus Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya sebelum pengalangan dana dimulai.

Rumah Ibu Biyah di Lorong Irigasi Gampong Kota Bahagia Kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat Daya | Foto : Nasruddin Oos

Rumah Ibu Biyah di Lorong Irigasi Gampong Kota Bahagia Kecamatan Kuala Batee – Aceh Barat Daya | Foto : Nasruddin Oos

Hal tersebut dibenarkan oleh Ketua Panitia Pelaksana “Rumahmu, Amal Ibadah ku”, Asrul Madi. “Iya rumah untuk Ibu Biyah sudah mulai dibangun diatas tanah wakaf, namun masih di gampong yang sama dan tidak jauh dari rumah yang selama ini ditempati.” Sabtu, 3 desember 2016.

Kemudian kata Asrul “Pembangunan rumah untuk Ibu Biyah sudah kita mulai Jumat, 2 desember 2016, namun mengigat material dan dana yang sudah terkumpul ini belum mencukupi. Kita masih sangat mengharapkan bantuan dari dermawan lainnya.”

1466232039398

Ketua Panitia Pelaksana “Rumahmu, Amal Ibadahku” Asrul Madi saat bersama Ibu Biyah. | Foto : Nasruddin Oos

Sementara Geuchik Gampong Kota Bahagia, Erlis menyikapi hal tersebut dengan positif menyangkut pembangunan rumah untuk salah seorang warga gampong yang dia pimpin.

“Alhamdulillah, untuk rumah Nek Biyah ini sudah beberapa kali dinaikkan proposal terhadap pembangunan rumah nek Biyah ini tapi tidak ada tanggapan dari pemerintah.” Ujar Erlis

Kemudian Erlis menambahkan “Memang sangat layak pembangunan rumah Nek Biyah ini dibangun, apa lagi buat fakir miskin seperti nek Biyah.”

Keaktifan warga Gampong Kota Bahagia Kecamatan Kuala Batee sangat luar biasa terhadap pembangunan rumah Biyah yang dilakukan secara gotong royong dan juga tidak terlepas Babinsa yang turut aktif. Kini pondasi rumah Biyah sudah ada, kegembiraan pun sudah terlihat dalam rasa syukur kepada Allah SWT dan pihak keluarga pun sangat berterimakasih terhadap bantuan yang diberikan untuk membangun rumah untuk Biyah.

1466231891688

Dalam pengalangan dana yang digagas oleh Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya yang juga bekerjasama dengan komunitas Fotografer komfOOs, DPC POSPERA Aceh Barat Daya, Dandim 0110 melalui Koramil Kuala Batee memang penyumbang tidak terbatas ada dari masyarkat biasa, make up, fotografer, politisi, anggota DPRA, Darwati, ibu rumah tangga, bahkan dari pemuda dan mahasiswa serta dari berbagai elemen lainnya.

Sisa uang dari pengalangan dana yang terkumpul diluar material sekitar Rp. 6 juta kini tinggal Rp. 2,5 juta lagi. Apalagi para tukang sekitar 3 (tiga) orang meminta upah sekitar Rp. 100.000 per hari. Sementara material yang masih sangat dibutuhkan berupa, semen, balok kayu 10/10, 5/10, 5/5, seng gelombang (BJLS) dengan rabung seng, papan cetak, papan dinding dan lisplank, pasir plaster, kerikil cor, batu kali untuk pondasi, timbunan (tanah / tasirtu), paku (ukuran campur), kayu kusen, pintu lengkap Engel, pacok dan kunci, jendela lengkap engsel dan pacok, listrik lengkap dan lain lain.

Bagi saudara yang ingin menjadi donatur untuk pembangunan rumah Ibu Biyah janda yang selama ini menempati gubuk reot, bertajuk “Rumahmu, Amal Ibadahku,” dapat menghubungi nomor kontak 081260852973 (Ketua BFLF Pusat, Michael ) dan 085277339902 (Ketua Panpel, Aroel) 085265884688 (Bendahara, Ardy Batee). Untuk bantuan dapat mengirim ke nomor rekening 3340-01-022415-53-5, Bank BRI atas nama Blood For Life Foundation.[]Sifral Jamil

Yuk Kita Bantu Bangun Rumah untuk Biyah

1466231891688

Rumah Ibu Biyah di Lorong Irigasi Gampong Kota Bahagia Kecamatan Kuala Batee – Aceh Barat Daya | Foto : Nasruddin Oos

BFLF.or.id | Aceh Barat Daya – Pembangunan rumah Biyah (56) warga lorong Irigasi Gampong Kota Bahagia Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya yang menempati gubuk reot seorang diri sudah berlangsung beberapa tahun terakhir, akan dilangsungkan pada tanggal 2 desember 2016, mendatang.

Hal tersebut dikatakan oleh ketua Panitian Pelaksana “Rumahmu, Amal Ibadahku” yang juga ketua Bidang Kesehatan Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya, Asrul Madi. Senin 28 November 2016.

Kondisi hidup seorang diri tanpa harta dan hanya menumpang ditanah kebun milik orang lain, memang sangat memprihatinkan dengan kondisi yang sakit-sakitan apalagi bila hujan angin menguyur tentu hal tersebut tidak aman dan nyaman untuk Biyah.

Pembangunan rumah untuk Biyah kata Asrul “Untuk pembangunan rumah untuk ibu Biyah ini kita melibatkan aparatur Gampong dan TNI dari Koramil Kuala Batee, Dandim 0110 Aceh Barat Daya.”

1466232039398

Kabid Kesehatan BFLF Aceh Barat Daya, Asrul Madi saat berkunjung ker rumah Ibu Biyah di Lorong Irigasi Gampong Kota Bahagia Kecamatan Kuala Batee – Aceh Barat Daya | Foto : Nasruddin Oos

Nur Hayati menjelaskan, bahwa kakaknya Biyah hidup menumpang di kebun milik orang karena tidak memiliki tanah, “Bila ada bantuan rumah untuk kakak saya, maka saya menghibahkan satu pintu tanah untuk dibangun rumah buat kakak, kasian dia.”

Lebih lanjut dikatakannya, “Hidup sendiri tanpa anak, suami telah pergi sejak mereka bercerai, sehari-hari dia tanam kunyit dan kacang disekitar rumah dia tinggal. Sebenarnya kakak saya ini juga sakit kanker rahim tapi tidak mau berobat.”

Ingin membantu membangun rumah Biyah, bisa langsung menghubungi BFLF Aceh Barat Daya, jika bantuan ada dalam kawasan kabupaten Aceh Barat Daya pihak panitia akan menjemput bantuan tersebut. “Kalau ada bantuan dari bapak ibu bisa hubungi kami, dalam kabpaten Aceh Barat Daya akan kami jemput jika tidak bisa diantar.”

Sejauh ini Pengalangan dana untuk membangun rumah Biyah yang bertajuk “Rumahmu, AmalIbadahku” sudah terkumpul uang sekitar Rp. 6 juta, Batu bata 1.000 biji, semen 24 sak, pasir 2 truk. Tripet, papan 10 lembar dan seng masih dalam komfirmasi.

Rumah Ibu Biyah di Lorong Irigasi Gampong Kota Bahagia Kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat Daya | Foto : Nasruddin Oos

Rumah Ibu Biyah di Lorong Irigasi Gampong Kota Bahagia Kecamatan Kuala Batee – Aceh Barat Daya | Foto : Nasruddin Oos

Sementara material yang masih sangat dibutuhkan berupa, semen, balok kayu 10/10, 5/10, 5/5, seng gelombang (BJLS) dengan rabung seng, papan cetak, papan dinding dan lisplank, pasir plaster, kerikil cor, batu kali untuk pondasi, timbunan (tanah / tasirtu), paku (ukuran campur), kayu kusen, pintu lengkap Engel, pacok dan kunci, jendela lengkap engsel dan pacok, listrik lengkap dan lain lain.

Bagi anda yang ingin menjadi donatur untuk bedah rumah Ibu Biyah bertajuk “Rumahmu, Amal Ibadahku,” dapat menghubungi nomor kontak 081260852973 (Ketua BFLF Pusat, Michael ) dan 085277339902 (Ketua Panpel, Aroel) 085265884688 (Bendahara, Ardy Batee). Untuk bantuan dapat mengirim ke nomor rekening 3340-01-022415-53-5, Bank BRI atas nama Blood For Life Foundation.[]Nasruddin Oos

Masnur Pasien Perut Membesar, Besok Akan Dirujuk Ke RSUDZA Banda Aceh

@Masnur pasien yang perutnya membersar asal Aceh Singkil

Masnur pasien yang perutnya membersar asal Aceh Singkil

BFLF.or.id |Aceh Singkil – Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Singkil kembali mendampingi pasien dari keluarga kurang mampu. Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Ketua BFLF Aceh Singkil, Darwis ST. Minggu 27 November 2016.

“Insha Allah besok (Senin.red) kita akan merujuk pasien dari Aceh Singkil ke RSUD dr.Zainoel Abdidin,” Ujar Darwis

Pasien dari keluarga kurang mampu tersebut bernama Masnur warga Gampong Sukadamai Kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil. Masnur saat dikunjung BFLF Aceh Singkil ke rumahnya sedang terbaring dengan perut membesar. Selain Ketua BFLF Aceh Singkil, Darwis ST juga turut hadir Pembina BFLF Aceh Singkil, Moh Ichsan.

“Kita mendampingi pasien Masnur, untuk admistrasi sudah kita urus, dan besok (Senin.red) akan kita bawa ke Banda Aceh untuk pengobatan lebih lanjut,” kata Darwis.

Masnur selama ini tidak dirujuk ke Banda Aceh, dan juga belum diketahui penyebab perutnya membesar. Apalagi persoalan terkendala biaya, baik untuk biaya transportasi maupun biaya makan dan tempat tinggal selama menjalani proses pengobatan rawat jalan.

@Masnur Pasien asal Aceh Singkil

@Masnur Pasien asal Aceh Singkil

Sementara, Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Pusat, MichaelO Alexander Chan mengatakan bahwa pasien dampingan dari BFLF Aceh Singkil tersebut akan ditampung di Rumah Singgah BFLF yang berada di jalan Pari No. 22 Lampriet Banda Aceh. “Kita sudah menyiapkan kamar untuk pasien Masnur yang datang dari Aceh Singkil besok.”

Lebih lanjut dikatakan Michael “Selama berada dirumah singgah BFLF akan menanggung makan dan penginapan, hal itu sama seperti pasien dampingan BFLF lainnya.”[]OOS

Sawiyah Pengidap Tumor Ganas Butuh Uluran Tangan Dermawan

Sawiyah yang mengindap penyakit tumor ganas warga Meureubo - Meulaboh | Foto : Ist

Sawiyah yang mengindap penyakit tumor ganas warga Meureubo – Meulaboh | Foto : Ist

BFLF.or.id | MEULABOH – Sawiyah (52) warga Meureubo Kabupaten Aceh Barat mengindap penyakit tumor ganas yang sangat memprihatinkan membutuhkan uluran tangan dermawan untuk kelanjutan pengobatannya.

Hampir tak bisa dikenali lagi sebagian wajahnya telah ditutupi akibat penyakit yang dideritanya sejak 2005. Hal tersebut sebagaimana diceritakan oleh Anggota Blood For Life Foundation (BFLF) Meulaboh, Maya dihalaman facebook untuk mengalang dana.

Team BFLF Meulaboh yang mengunjungi Sawiyah dikediamannya di daerah Meureubo, Sabtu 26 November 2016.

Sawiyah, ibu tiga anak ini pada awalnya sekitar tahun 2005, wajah Sawiyah hanya terantuk dengan kepala anak bungsunya hingga dibagian hidung terlihat lembam kebiru-biruan dan tulang hidungnya patah.

“Muka ibu Sawiyah terantuk dengan kepala anaknya yang kecil dibagian hidung tulangnya patah dan menyebabkan lembam dihidung serta kebiru-biruan kemudian berobat di kampung karena tidak ada biaya,” Ujar Maya.

Kemudian, kondisinya semakin parah, Sawiyah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh. Saat itulah Sawiyah divonis mengidap penyakit tumor, dan harus menjalani kemoterapi serta dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dr.Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.

Sejak saat itu juga belum ada kabar yang mengembirakan untuk Sawiyah, padahal Sawiyah telah dirujuk ke RSUDZA milik provinsi Aceh, hingga Sawiyah kembali dirujuk dari RSUDZA Banda Aceh ke Rumah Sakit Umum Adam Malik yang berada di Medan.

Sampai saat ini, Sawiyah sudah melakukan kemoterapi selama 4 (empat) kali dari total kemoterapi yang harus dijalani Sawiyah sebanyak 35 kali di RSU Adam Malik Medan.

Lantaran tidak ada biaya, Sawiyah terpaksa berhenti melakukan kemoterapi sementara penyakit yang dideritanya tersebut terus membuat Sawiyah kesulitan melihat dan mengalami rasa sakit.

“Saat ini kondisi ibu Sawiyah semakin memburuk karena tumor ganasnya mulai menjalar ke tengkorak bagian dalam, mataa ibu Sawiyah sudah dipenuhi oleh tumor sehingga ibu Sawiyah sudah tidak bisa melihat lagi,” kata Maya.

Kondisi Sawiyah semakin hari semakin memburuk, Sawiyah pun tidak bisa begitu bebas untuk beraktifitas karena Sawiyah harus berada selalu dalam kelambu yang berada dikamarnya untuk tidak dikerumunin lalat menghindari persinggahan lalat pada bagian wajah yang terjangkit tumor ganas.

Sawiyah saat masih sehat | Foto : Dok. Sawiyah

Sawiyah saat masih sehat | Foto : Dok. Sawiyah

“Ibu Sawiyah harus berada dalam kelambu untuk menghindari persinggahan lalat. Ibu Sawiyah sering merintih kesakitan karena keadaan beliau yang sudah sangat memprihatinkan akibat terjankrit tumor ganas,” Papar Maya

Saat mengetahui team BFLF Meulaboh, mengunjungi kediamannya Sawiyah bahkan salah satu dari team BFLF Meulaboh tersebut sangat dikenal oleh Sawiyah lantaran kawan dekat anak pertama Sawiyah.

Sambil merintih kesakitan, Sawiyah mengatakan kepada team BFLF Meulaboh “Beginlah kondisi ibu nak, mohon doanya agar ibu cepat sembuh,”

Selain mengatakan hal demikian dalam kondisi Sawiyah yang sangat prihatin tersebut, Sawiyah masih sempat berpesan kepada team BFLF Meulaboh agar tidak meninggalkan shalat. “Jangan pernah meninggalkan shalat ya nak.”

Sawiyah sangat ingin melanjutkan pengobatannya tetapi hal tersebut menurut Sawiyah tidak mungkin dilakukan lagi lantaran kehidupan ekonominya kurang mampu, apalagi kemoterapi yang harus dilakukannya tersebut berada di Medan tentu ha ini membutuhkan biaya. Bukan untuk sekali keberangkatan namun untuk kemoterapi yang harus dilakukan tersebut berjumlah 35 kali kemoterapi dan terhenti setelah melakukan kemoterapi yang ke empat.

Fto Ibu Sawiyah bagian hidungnya sudah mulai membengkak

Foto Ibu Sawiyah bagian hidungnya sudah mulai membengkak

Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Pusat, MichaelO Alexander Chan langsung merespon begitu mengetahui kondisi Sawiyah. Michael berkomunikasi dengan Plt Bupati Aceh Barat melalui WhatsApp.

“Kondisi ibu Sawiyah sudah kita langsung informasikan melalui WA kepada Bapak Plt Bupati Aceh Barat dan beliau sampaikan terima kasih kepada BFLF Meulaboh yang telah membantu dan memberikan informasi.” Ujar Michael

Lanjut, Michael “BFLF berharap bapak Plt Bupati Aceh Barat dan jajaran membantu pengobatan ibu Sawiyah. Serta untuk Masyarakat Aceh agar dapat memberikan informasi kepada pemerintah daerah setempat atau BF LF kalau ada warga masyarakat yang dari kaum dhuafa yang mempunyai keterbatasan untuk berobat dan di rujuk RSUZA ke Banda Aceh.”

“Mudah-mudahan dengan saling bergandengan tangan kita dapat membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan kita, sehingga tidak ada lagi masyarakata yang tidak dapat berobat dengan keterbatasan biaya transportasi, tempat tinggal sementara dan biaya makan selama proses pengobatan,” Harap Michael

Bagi saudara-saudari yang ALLAAH gerakkan hatinya untuk ingin membantu ibu Sawiyah maka dapat menghubungi Anggota Team BFLF Meulaboh Saudari, Maya (HP : +6282168614454) dan atau juga Ketua BFLF Pusat, MichaelO Alexander Chan (HP : +6281260852973). Untuk bantuan dapat mengirim ke nomor rekening 3340-01-022415-53-5, Bank BRI atas nama Blood For Life Foundation.[]OOS

Personil Satpol PP Abdya Lumpuh, Butuh Kursi Roda

Syafrizal (39) saat dijemput tim BFLF di Gampong Uteun Gathom Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen. | Foto : Adi Khairi

Syafrizal (39) saat dijemput tim BFLF di Gampong Uteun Gathom Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen. | Foto : Adi Khairi

BFLF.or.id | Banda Aceh – SYAFRIZAL (39) Warga Gampong Kampung Tengah Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya, yang sehari-hari berpakaian seragam Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol PP) dikabupaten setempat.

Kegagahan dalam berseragam tersebut tak lagi dirasakan semenjak empat bulan terakhir, karena dia sudah menderita lumpuh. Sekitar bulan oktober Syafrizal dirujuk dari Badan Layanan Umum Rumah Sakit Umum Daerah Teungku Peukan (BLU RSUDTP) Aceh Barat Daya ke RSUD dr.Zainoel Abidin yang berada dipusat ibu kota Provinsi Aceh yaitu Banda Aceh.

Hal tersebut seperti diceritakan oleh Kasnilawati (39) Istri Syafrizal kepada Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya, Nasruddin Oos saat bertemu dijalan Kakap, Jumat pagi 18 November 2016. Pukul 09:00 WIB.

Sehari sebelumnya, Nasruddin Oos dihubungi oleh Istri Syafrizal tersebut melalui saluran handphone dengan maksud meminta bantuan kursi roda untuk Pria tiga anak ini, kini berada di Matang Kabupaten Bireuen, selama satu bulan berada di RSUDZA Banda Aceh yang ditemani istrinya sampai Syafrizal dinyatakan boleh keluar dan selanjutnya berobat jalan. Kasnilawati binggung harus dibawa pulang kemana suaminya karena tanpa ada saudara di Banda Aceh hingga dibawa pulang ke Matang.

Senin 21 November 2016, Syafrizal harus berada di RSUDZA Banda Aceh untuk rawat jalan, kondisi Syafrizal yang kini lumpuh karena tulang belakangnya seperti tidak lagi berfungsi. “Suami saya tidak bisa duduk, dia membutuhkan kursi roda, harus kami cari kemana kursi roda, maka saya hubungi Diah dan Diah memberikan nomor Oos,” Ujar Kasnilawati

Sekitar empat bulan ini Syafrizal mengalami sakit, dia sebagai tenaga kontrak di Satpol PP dan WH Kabupaten Aceh Barat Daya, pada awalnya tidak mau berobat dirumah sakit karena tidak ada biaya, hingga Kasnilawati bersikeras untuk membawa suaminya hingga dari BLU RSUD Teungku Peukan Aceh Barat Daya dirujuk ke RSUDZA.

“Kemaren saya berangkat ke Banda dari Matang karena mau mencari bantuan kursi roda, ini pun uang tidak ada, sementara hari senin nanti suami saya masuk RSUDZA lagi dan hari minggu harus sudah ada di Banda. Alhamdulillah sekali jika saya nanti mendapat bantuan.” Kata Kasnilawati

Kasnilawati menunjukkan berkas yang dia bawa ke BFLF, seperti fotocopy Surat Keterangan Rawatan dari RSUDZA, fotocopy Surat Keterangan Kurang Mampu (Miskin) dan surat keterangan sakit/lumpuh yang ditanda tangan Geuchik Gampong Kampung Tengah dan Camat Kuala Batee, fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP), fotocopy  Kartu Keluarga (KK), fotocopy  kartu BPJS, fotocopy Kartu Tanda Anggota Satpol PP dan WH Aceh Barat Daya.

Kasnilawati sangat berharap, suaminya bisa berobat lanjutan ke RSUDZA dan mendapat bantuan kursi roda. Semoga selalu ada dermawan yang terbuka hati untuk membantu Syafrizal yang kini mengalmi lumpuh.[]

BFLF dan Mereka Penghuni Rumah Singgah

1michael

@Michael. | Foto : Nasruddin Oos

BFLF.or.id | BANDA ACEH – Laki-laki kurus itu berkursi roda, kulitnya berjenis sawo mantang. Kepalanya menunduk sekaya termenung saat duduk di depan spanduk berukuran 3×5 meter yang bertuliskan Rumah Singgah Blood For Life Foundation (BFLF), tak jauh dari pintu utama, kemeja putih dikenakannya koyak di sisi kanan, terlihat dipangkuannya sebuah kantong untuk kencing.

Di sisi lain, dua perempuan sedang berbincang ketika itu. Salah satu mereka tangannya asik bergerak memainkan jarum rajut, benang rajutan terus berkurang dari gulungan tergeletak di lantai teras beralas keramik. Beberapa aktivitas di rumah singgah, bila waktu sore keluarga pasien belajar merajut tas, setelah seharian mendampingi suami, anak atau istri bahkan adik atau kakaknya yang tercata sedang menjalani masa pengobatan di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA).

15202653_1480981551929771_7697187122058458865_n

Syafrizal Pasien Lumpuh / Foto : Michael

Sementara, beberapa anak muda berstatus mahasiswa di FISIP Unsyiah menjalani magang di BFLF sedang membersihkan kipas angin, baru saja diambil di rumah penyumbang. “Para donatur bisa menyumbang berbagai kebutuhan untuk dapat digunakan oleh keluarga pasien dari berbagai daerah Provinsi Aceh,” kata Agus Salam, salah satu mahasiswa magang.

Rumah singgah ini digagas oleh Blood For Life Foundation (BFLF) yang dinahkodai oleh Michael  O Alexander Chan. Salah satu organisasi sosial yang lahir pada 26 Desember 2010 silam. Awalnya kemunculannya, BFLF fokus mencari relawan pendonor darah, mempertemukan pendonor dengan keluarga pasien dan mengajak keluarga pasien untuk donor darah, sehingga makna saling berbagi itu dapat tercurahkan pada yang sangat membutuhkan.

Rumah singgah BFLF ini memasuki tahun kedua, hanya sebuah rumah berstatus sewa di Villa Citra Gampong Pineung, tahun pertama. Selepas itu pada tahun kedua ini rumah singga ini pindah ke Jalan Pari nomor 22 Lampriet, Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Tampak sederhana bagunan gedung ini, namun cukup untuk membantu masyrakat yang membutuhkan. Rumah singgah ini hanya tersedia lima kamar, selebihnya ada ruang tamu, ruang menonton, ruang makan, ruang membaca dan dapur. “Per-Minggu rumah singgah ini harus menampung enam sampai delapan keluarga pasien,” kata Michael, kemarin.

img_20161103_114505_hdr

Arifani saat dijengguk oleh saudaranya dihalaman parkir RSUDZA Banda Aceh. | Foto: Sifral Jamil

Mulanya, rumah singgah ini hanya diperuntukkan untuk  pasien Kanker, Hemofili dan Thallasemia, tetapi pada kenyataannya, kata Michael mereka harus menampung pasien lain yang berstatus rawat jalan yang berasal dari keluarga kurang mampu. “Bahkan, ada yang sudah ber-minggu tidur di mushalla rumah sakit umum karena tidak ada tempat yang dekat dengan rumah sakit yang bisa mereka tempati, salah satunya pasien Tumor Mediastimum, Pak Ali Basyah (56) warga Gampong Ie Mameh Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya,” sebut Michael.

Pasien rawat jalan, untuk kebutuhan pengobatan itu memang ditanggung oleh Pemerintah Aceh melalui BPJS, tetapi untuk transportasi dari rumah sakit rujukan bertipe C, tipe B atau ke rumah sakit umum daerah bertipe A, tidaklah ditanggung oleh BPJS. Hal itu membuat pasien yang kehidupan sosialnya kurang mampu tentu saja mengambil keputusan untuk menyimpan di rak lemari surat rujukan dari dokter di rumah sakit tingkat kabupaten disimpan. “Dan ada yang rujukan sudah habis masa. Inilah yang selama ini kita damping selama ini di beberapa kabupaten yang sudah terbentuk BFLF di tingkat kabupaten,” kata Michael. “Ada juga kabupaten yang belum terbentuk BFLF, tapi jika kita mendapatkan kabar atau informasi maka BFLF akan menjemput dan mendampingi pengobatan.”

Menurut informasi yang dihimpun, kata Michael, rata-rata pasien yang didampingi BFLF itu merupakan orang-orang yang sudah putus asa dalam berobat, katanya, mereka ingin sembuh tetapi tidak ada dana dan tidak ada tempat tinggal, yang membuat mereka berbulan, bahkan bertahun tidak lagi berobat. BFLF pantang mendengar informasi, mereka langsung menemui pasien, meyakinkan pasien untuk berobat. “Nah, dalam hal ini banyak pasien mengatakan, bagaimana kami harus berobat ke Banda Aceh sedangkan untuk makan sehari-hari saja kami kesulitan,” ujar Arifani, salah satu pasien Tumor SNPC.

Arifani berkeinginan sembuh dari sakitnya. Lantaran tak memiliki biaya, dia hanya meraung kesakitan dengan meneteskan air mata di sisi wajahnya di rumah ketika rasa sakit itu menyerangnya. Sang menantu lah yang mencari obat ke dokter untuk menghilangkan rasa sakit, akan tetapi bukan menyembuhkan.

“Alhamdulillah Arifani, Senin 21 November 2016 lalu sudah menjalani kemoterapinya yang pertama setelah melewati proses pemeriksaan berbagai macam pemeriksaan dalam menentukan jenis obat yang digunakan untuk kemoterapi,” kata Michael. Ali Basyah—pasien lainnya, tentu berbeda dengan Arifan, meskipun mereka berasal dari daerah yang sama yaitu Aceh Barat Daya. Ali Basyah lelaki yang berprofesi sebagai penjual ikan keliling, muge eungkot—sebutan dalam Bahasa Aceh. Ali masuk ke rumah singgah BFLF menjelang kemoterapi yang ke empat kali. “Sebelumnya Pak Ali Basyah bersama istri dan anaknya tidur di Mushallah rumah sakit sambil menunggu jadwal kemoterapi,” sebut Michael.

Perlu diketahui, berdasarkan anjuran dokter pasien dampingan setiap bulan harus ke Banda Aceh, untuk menjalani berbagai proses yang diserukan oleh dokter. Ada yang khusus untuk transfusi darah, kemoterapi serta pengambilan obat dan konsultasi dengan dokter.

“Misalnya pasien tersebut dari kabupaten Aceh Barat Daya, menuju RSUDZA di Banda Aceh dengan naik mobil penumpang, maka harga tiket satu pasien Rp 120 ribu, ditambah dengan pendamping dari keluarga satu orang maka pulang pergi satu pasien untuk ongkos saja harus ada uang Rp 480 ribu, itu belum lagi ditambah makan dalam perjalanan dan selama di Banda Aceh. Maka setidaknya tiap bulan satu pasien harus ada uang sekitar Rp 800 ribu dengan menempuh perjalanan sekitar enam jam. Belum lagi dengan pasien dari kabupaten Aceh Singkil yang menempuh jarak perjalanan sekitar 13 jam,” kata Michael.

Sampai saat ini, BFLF tidak mempunyai donator tetap. Mereka tidak memilik jaringan keuangan, tetapi untuk mengalang dana baik unutk kebutuhan rumah singgah, transportasi pasien, dan memenuhi kebutuhan tambahan sesuai anjuran dokter, BFLF mengalang dana melalui media sosial, seperti BBM, Facebook, Path, Instagram, Weblog bahkan media massa, baik media cetak maupun media online.

Minggu lalu, BFLF dengan ambulance yang mereka miliki menjemput pasien lumpuh yang dari keluarga kurang mampu di gampong Uteun Gathom kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen. Pasien ini harus dibawa ke RSUDZA, jika tak dijemput dipastikan pasien ini tidak dapat melakukan konsultasi paska operasi tulang belakang. “Itu juga kita lakukan,” kata Michael.

Kini, BFLF memiliki dua unit ambulance. Satu unit menetap di Banda Aceh dan sisanya di BFLF Perwakilan Aceh Barat Daya. Kendaraan roda empat ini merupakan bantuan Bank Aceh yang berada di Aceh Barat Daya, yang memiliki ranjang. Sedangkan ambulance yang stanby di Banda Aceh ini tidak memiliki ranjang tidur tetapi selama ini di khususkan untuk antar jemput pasien Thallasemia yang berada di Banda Aceh dan Aceh Besar. “Sekali-kali ke laur kota juga,” kata Michael. BFLF juga kerjasama dengan RSUDZA dalam mengelola ruang Thallasemia. Bukan berarti mengambil alih peran para petugas di sana tetapi hanya saja BFLF mengelar ruang bermain untuk anak-anak Thallasemia seperti membuat lomba mewarnai dan berbagai aktivitas lainnya.

Tak sampai disitu, BFLF juga bekerjasama dengan Prof. Raldi Antono Koestoer dari Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan Yayasan Bayi Prematur Indonesia sebagai agen peminjaman incubator gratis wilayah Aceh dan Sumatra Utara.

Dikatakan Michael, Prof. Raldi memberikan dua unit incubator gratis, kemudian ditambah satu unit dari bantuan masyarakat Aceh yang menjadi partner lembaga sosial itu. Inkubator ini bisa dipinjam untuk bayi prematur dari keluarga kurang mampu yang membutuhkannya. “Untuk sekarang kita hanya mampu meminjamkan untuk wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar saja,” ujarnya, tentu dengan syarat dan ketentuan yang sudah mereka tetapkan. Bahkan kata Michael, ketikan incubator itu sedang dalam masa peminjaman, BFLF akan berkunjung untuk memantau perkembangan bayi prematur tersebut.

i2mg_5996

Ibu-ibu dirumah Singgah sedang belajar merajut | Foto : Nasruddin Oos

Selain itu, BFLF juga memiliki sebuah gerakan nasi bungkus, dibagikan pada keluarga pasien, sebanyak 30 bungkus untuk makan siang dan 30 bungkus untuk makan malam, diantar langsung oleh ralwan BFLF ke kamar pasien. “Ini juga khusus pasien dari keluarga kurang mampu,” cetus Michael.

Sejak didirikan, sampai sekarang ini BFLF terus melakukan pendampingan pasien yang kurang mampu dengan berbagai keterbatasan. “Kadang-kadang pasien kita di rumah singgah kekurang kasur dan bantal.” Tetapi BFLF memiliki cita-cita untuk mewujudkan donor darah sebagai gaya hidup sehat di Aceh, sehingga setiap orang bisa mendonorkan darahnya untuk keluarganya dan orang lain yang membutuhkan. “Ini akan membuat kebutuhan darah di Aceh selalu terpenuhi dan bisa menolong mereka yang membutuhkan,” imbuh Michael.

“BFLF didirikan untuk mengembangkan dan meningkatkan kepedulian, tanggung jawab sosial dan peran serta masyarakat untuk aktif menjadi donor darah sukarela, didasari kemampuan untuk menyukseskan secara maksimal misi program kemanusiaan sebagai mitra sejajar instansi pemerintah terkait maupun lembaga-lembaga sosial kemanusiaan dan kesehatan lainnya,” jelas Michael.

Dalam waktu dekat ini, BFLF kembali melakukan bedah rumah masyarakat miskin yang tidak layak huni. Hal tersebut sudah pernah terpubliskan melalui media massa. Mereka membantu janda tanpa anak hidup sendiri di rumah berdinding pelepah rumbia dan daun kelapa yang sudah dianyam serta berlantai bambu kering. Tanpa golden, tanpa pintu pengaman, bahkan kasur pun tak punya, apalagi kursi tamu buatan jepara. Bedah rumah janda miskin di rumah tidak layak itu sudah dua kali. Tahun lalu, rumah Nek Maneh di Gampong Padang Sikabu, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya.

“Inshaallah kita akan terus melakukan hal hal bermanfaat untuk masyarakat, mendampingi pasien kurang mampu, mendampingi dan menghibur anak-anak Thallasemia, Kanker dan penyakit anak lainnya,” pungkas Michael. [] Nasruddin Oos

NASRUDDIN OOS: PAHLAWAN TAK BERTOPENG DARI ACEH BARAT DAYA

@Nasruddin Oos

OOS demikian namanya dipanggil. Sekilas pandang, tak ada sesuatu yang berbeda jika tidak dikatakan bisa diharapkan dari pria ini. Kulitnya yang hitam makin mempertegas eksotisme garis DNAnya. Prestasi akademikpun nampaknya tidak terlalu menonjol, jarang terdengar Oos memberikan khutbah tentang topik yang berhubungan dengan studinya. Ketika kuliah, dia pernah memanjangkan rambut gondrong yang ikal keriting tak jadi. Ini dapat ditelusuri dari foto yang dia unggah di Facebook pribadinya. Suka mendesain, namun tidak punya toko grafika sampai tulisan ini diturunkan. Hal ini juga dapat dibuktikan dari banyaknya baju kaos yang bertulisan suka-suka dia. Banyak status yang dia unggah, terkadang butuh interpretasi ulang. Dan selalu diakhiri dengan tulisan *Nyan Mantoeng. Dari segi seni jika diklasifikasikan, Oos mirip-mirip dengan Sujiwo Tejo.

Kegilaannya pada kegiatan sosial memang telah tampak semenjak masa mahasiswa. Celakanya sepulang kekampung halaman, kegilaannya semakin bertambah. Bahkan Oos mampu membuat kegilaannya tertular pada orang-orang baru. Perselingkuhannya dengan dunia fotografi telah membidani lahirnya KomfOOs serta memberi energi lahirnya beberapa komunitas foto lain di Abdya. Menjadi wartawan, yang telah berpindah beberapa media membuatnya tetap diperhitungkan didunia jurnalistik. Mengenai asmara, tak banyak yang dapat diketahui dari seorang Oos yang sampai hari belum beristri. Oos juga aktif pada Blood For Life Foundation yang merupakan lembaga sosial yang berurusan dengan donor darah.

Oos memang belum punya anak, tapi dia telah membantu banyak anak tak kehilangan Ibunya. Oos memang belum punya anak, tapi melalui acaranya dia bisa mengajak orang mendonorkan darah sehingga seorang anak masih bisa memanggil seseorang dengan panggilan Ayah. Banyak saudara yang telah tertolong dengan adanya lembaga ini. Banyak orang yang bisa tetap sehat meski telah berbagi darah dengan sesama. Acaranya yang terbaru mengangkat judul “silaturahmi empat golongan”, kembali menyajikan fakta bahwa Oos dan komunitasnya terus beraksi. Oos tak memerlukan topeng, dan dia juga tak memerlukan panggung untuk aksinya. Tak perlu ajak wartawan, karena relawannya sendiri termasuk ada wartawan. Karena selalu ada cinta untuk cinta meskipun belum ada cinta dan belum beristri. Semoga cepat beristri.*Nyan Mantoeng.

**Tulisan ini ditulis sebelum Oos mengakhiri masa lajangnya, kini dia sudah menikah dengan meminang seorang gadis dari Bireuen pada tanggal 23 September 2016.

Penulis; Ikhwanul Abu Asyrafi·1 Juni 2016

Seorang Guru FISIKA di Salah Satu SMK di Aceh Barat Daya