November, 2016

now browsing by month

 

Yuk Kita Bantu Bangun Rumah untuk Biyah

1466231891688

Rumah Ibu Biyah di Lorong Irigasi Gampong Kota Bahagia Kecamatan Kuala Batee – Aceh Barat Daya | Foto : Nasruddin Oos

BFLF.or.id | Aceh Barat Daya – Pembangunan rumah Biyah (56) warga lorong Irigasi Gampong Kota Bahagia Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya yang menempati gubuk reot seorang diri sudah berlangsung beberapa tahun terakhir, akan dilangsungkan pada tanggal 2 desember 2016, mendatang.

Hal tersebut dikatakan oleh ketua Panitian Pelaksana “Rumahmu, Amal Ibadahku” yang juga ketua Bidang Kesehatan Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya, Asrul Madi. Senin 28 November 2016.

Kondisi hidup seorang diri tanpa harta dan hanya menumpang ditanah kebun milik orang lain, memang sangat memprihatinkan dengan kondisi yang sakit-sakitan apalagi bila hujan angin menguyur tentu hal tersebut tidak aman dan nyaman untuk Biyah.

Pembangunan rumah untuk Biyah kata Asrul “Untuk pembangunan rumah untuk ibu Biyah ini kita melibatkan aparatur Gampong dan TNI dari Koramil Kuala Batee, Dandim 0110 Aceh Barat Daya.”

1466232039398

Kabid Kesehatan BFLF Aceh Barat Daya, Asrul Madi saat berkunjung ker rumah Ibu Biyah di Lorong Irigasi Gampong Kota Bahagia Kecamatan Kuala Batee – Aceh Barat Daya | Foto : Nasruddin Oos

Nur Hayati menjelaskan, bahwa kakaknya Biyah hidup menumpang di kebun milik orang karena tidak memiliki tanah, “Bila ada bantuan rumah untuk kakak saya, maka saya menghibahkan satu pintu tanah untuk dibangun rumah buat kakak, kasian dia.”

Lebih lanjut dikatakannya, “Hidup sendiri tanpa anak, suami telah pergi sejak mereka bercerai, sehari-hari dia tanam kunyit dan kacang disekitar rumah dia tinggal. Sebenarnya kakak saya ini juga sakit kanker rahim tapi tidak mau berobat.”

Ingin membantu membangun rumah Biyah, bisa langsung menghubungi BFLF Aceh Barat Daya, jika bantuan ada dalam kawasan kabupaten Aceh Barat Daya pihak panitia akan menjemput bantuan tersebut. “Kalau ada bantuan dari bapak ibu bisa hubungi kami, dalam kabpaten Aceh Barat Daya akan kami jemput jika tidak bisa diantar.”

Sejauh ini Pengalangan dana untuk membangun rumah Biyah yang bertajuk “Rumahmu, AmalIbadahku” sudah terkumpul uang sekitar Rp. 6 juta, Batu bata 1.000 biji, semen 24 sak, pasir 2 truk. Tripet, papan 10 lembar dan seng masih dalam komfirmasi.

Rumah Ibu Biyah di Lorong Irigasi Gampong Kota Bahagia Kecamatan Kuala Batee - Aceh Barat Daya | Foto : Nasruddin Oos

Rumah Ibu Biyah di Lorong Irigasi Gampong Kota Bahagia Kecamatan Kuala Batee – Aceh Barat Daya | Foto : Nasruddin Oos

Sementara material yang masih sangat dibutuhkan berupa, semen, balok kayu 10/10, 5/10, 5/5, seng gelombang (BJLS) dengan rabung seng, papan cetak, papan dinding dan lisplank, pasir plaster, kerikil cor, batu kali untuk pondasi, timbunan (tanah / tasirtu), paku (ukuran campur), kayu kusen, pintu lengkap Engel, pacok dan kunci, jendela lengkap engsel dan pacok, listrik lengkap dan lain lain.

Bagi anda yang ingin menjadi donatur untuk bedah rumah Ibu Biyah bertajuk “Rumahmu, Amal Ibadahku,” dapat menghubungi nomor kontak 081260852973 (Ketua BFLF Pusat, Michael ) dan 085277339902 (Ketua Panpel, Aroel) 085265884688 (Bendahara, Ardy Batee). Untuk bantuan dapat mengirim ke nomor rekening 3340-01-022415-53-5, Bank BRI atas nama Blood For Life Foundation.[]Nasruddin Oos

Masnur Pasien Perut Membesar, Besok Akan Dirujuk Ke RSUDZA Banda Aceh

@Masnur pasien yang perutnya membersar asal Aceh Singkil

Masnur pasien yang perutnya membersar asal Aceh Singkil

BFLF.or.id |Aceh Singkil – Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Singkil kembali mendampingi pasien dari keluarga kurang mampu. Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Ketua BFLF Aceh Singkil, Darwis ST. Minggu 27 November 2016.

“Insha Allah besok (Senin.red) kita akan merujuk pasien dari Aceh Singkil ke RSUD dr.Zainoel Abdidin,” Ujar Darwis

Pasien dari keluarga kurang mampu tersebut bernama Masnur warga Gampong Sukadamai Kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil. Masnur saat dikunjung BFLF Aceh Singkil ke rumahnya sedang terbaring dengan perut membesar. Selain Ketua BFLF Aceh Singkil, Darwis ST juga turut hadir Pembina BFLF Aceh Singkil, Moh Ichsan.

“Kita mendampingi pasien Masnur, untuk admistrasi sudah kita urus, dan besok (Senin.red) akan kita bawa ke Banda Aceh untuk pengobatan lebih lanjut,” kata Darwis.

Masnur selama ini tidak dirujuk ke Banda Aceh, dan juga belum diketahui penyebab perutnya membesar. Apalagi persoalan terkendala biaya, baik untuk biaya transportasi maupun biaya makan dan tempat tinggal selama menjalani proses pengobatan rawat jalan.

@Masnur Pasien asal Aceh Singkil

@Masnur Pasien asal Aceh Singkil

Sementara, Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Pusat, MichaelO Alexander Chan mengatakan bahwa pasien dampingan dari BFLF Aceh Singkil tersebut akan ditampung di Rumah Singgah BFLF yang berada di jalan Pari No. 22 Lampriet Banda Aceh. “Kita sudah menyiapkan kamar untuk pasien Masnur yang datang dari Aceh Singkil besok.”

Lebih lanjut dikatakan Michael “Selama berada dirumah singgah BFLF akan menanggung makan dan penginapan, hal itu sama seperti pasien dampingan BFLF lainnya.”[]OOS

Sawiyah Pengidap Tumor Ganas Butuh Uluran Tangan Dermawan

Sawiyah yang mengindap penyakit tumor ganas warga Meureubo - Meulaboh | Foto : Ist

Sawiyah yang mengindap penyakit tumor ganas warga Meureubo – Meulaboh | Foto : Ist

BFLF.or.id | MEULABOH – Sawiyah (52) warga Meureubo Kabupaten Aceh Barat mengindap penyakit tumor ganas yang sangat memprihatinkan membutuhkan uluran tangan dermawan untuk kelanjutan pengobatannya.

Hampir tak bisa dikenali lagi sebagian wajahnya telah ditutupi akibat penyakit yang dideritanya sejak 2005. Hal tersebut sebagaimana diceritakan oleh Anggota Blood For Life Foundation (BFLF) Meulaboh, Maya dihalaman facebook untuk mengalang dana.

Team BFLF Meulaboh yang mengunjungi Sawiyah dikediamannya di daerah Meureubo, Sabtu 26 November 2016.

Sawiyah, ibu tiga anak ini pada awalnya sekitar tahun 2005, wajah Sawiyah hanya terantuk dengan kepala anak bungsunya hingga dibagian hidung terlihat lembam kebiru-biruan dan tulang hidungnya patah.

“Muka ibu Sawiyah terantuk dengan kepala anaknya yang kecil dibagian hidung tulangnya patah dan menyebabkan lembam dihidung serta kebiru-biruan kemudian berobat di kampung karena tidak ada biaya,” Ujar Maya.

Kemudian, kondisinya semakin parah, Sawiyah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh. Saat itulah Sawiyah divonis mengidap penyakit tumor, dan harus menjalani kemoterapi serta dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dr.Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.

Sejak saat itu juga belum ada kabar yang mengembirakan untuk Sawiyah, padahal Sawiyah telah dirujuk ke RSUDZA milik provinsi Aceh, hingga Sawiyah kembali dirujuk dari RSUDZA Banda Aceh ke Rumah Sakit Umum Adam Malik yang berada di Medan.

Sampai saat ini, Sawiyah sudah melakukan kemoterapi selama 4 (empat) kali dari total kemoterapi yang harus dijalani Sawiyah sebanyak 35 kali di RSU Adam Malik Medan.

Lantaran tidak ada biaya, Sawiyah terpaksa berhenti melakukan kemoterapi sementara penyakit yang dideritanya tersebut terus membuat Sawiyah kesulitan melihat dan mengalami rasa sakit.

“Saat ini kondisi ibu Sawiyah semakin memburuk karena tumor ganasnya mulai menjalar ke tengkorak bagian dalam, mataa ibu Sawiyah sudah dipenuhi oleh tumor sehingga ibu Sawiyah sudah tidak bisa melihat lagi,” kata Maya.

Kondisi Sawiyah semakin hari semakin memburuk, Sawiyah pun tidak bisa begitu bebas untuk beraktifitas karena Sawiyah harus berada selalu dalam kelambu yang berada dikamarnya untuk tidak dikerumunin lalat menghindari persinggahan lalat pada bagian wajah yang terjangkit tumor ganas.

Sawiyah saat masih sehat | Foto : Dok. Sawiyah

Sawiyah saat masih sehat | Foto : Dok. Sawiyah

“Ibu Sawiyah harus berada dalam kelambu untuk menghindari persinggahan lalat. Ibu Sawiyah sering merintih kesakitan karena keadaan beliau yang sudah sangat memprihatinkan akibat terjankrit tumor ganas,” Papar Maya

Saat mengetahui team BFLF Meulaboh, mengunjungi kediamannya Sawiyah bahkan salah satu dari team BFLF Meulaboh tersebut sangat dikenal oleh Sawiyah lantaran kawan dekat anak pertama Sawiyah.

Sambil merintih kesakitan, Sawiyah mengatakan kepada team BFLF Meulaboh “Beginlah kondisi ibu nak, mohon doanya agar ibu cepat sembuh,”

Selain mengatakan hal demikian dalam kondisi Sawiyah yang sangat prihatin tersebut, Sawiyah masih sempat berpesan kepada team BFLF Meulaboh agar tidak meninggalkan shalat. “Jangan pernah meninggalkan shalat ya nak.”

Sawiyah sangat ingin melanjutkan pengobatannya tetapi hal tersebut menurut Sawiyah tidak mungkin dilakukan lagi lantaran kehidupan ekonominya kurang mampu, apalagi kemoterapi yang harus dilakukannya tersebut berada di Medan tentu ha ini membutuhkan biaya. Bukan untuk sekali keberangkatan namun untuk kemoterapi yang harus dilakukan tersebut berjumlah 35 kali kemoterapi dan terhenti setelah melakukan kemoterapi yang ke empat.

Fto Ibu Sawiyah bagian hidungnya sudah mulai membengkak

Foto Ibu Sawiyah bagian hidungnya sudah mulai membengkak

Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Pusat, MichaelO Alexander Chan langsung merespon begitu mengetahui kondisi Sawiyah. Michael berkomunikasi dengan Plt Bupati Aceh Barat melalui WhatsApp.

“Kondisi ibu Sawiyah sudah kita langsung informasikan melalui WA kepada Bapak Plt Bupati Aceh Barat dan beliau sampaikan terima kasih kepada BFLF Meulaboh yang telah membantu dan memberikan informasi.” Ujar Michael

Lanjut, Michael “BFLF berharap bapak Plt Bupati Aceh Barat dan jajaran membantu pengobatan ibu Sawiyah. Serta untuk Masyarakat Aceh agar dapat memberikan informasi kepada pemerintah daerah setempat atau BF LF kalau ada warga masyarakat yang dari kaum dhuafa yang mempunyai keterbatasan untuk berobat dan di rujuk RSUZA ke Banda Aceh.”

“Mudah-mudahan dengan saling bergandengan tangan kita dapat membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan kita, sehingga tidak ada lagi masyarakata yang tidak dapat berobat dengan keterbatasan biaya transportasi, tempat tinggal sementara dan biaya makan selama proses pengobatan,” Harap Michael

Bagi saudara-saudari yang ALLAAH gerakkan hatinya untuk ingin membantu ibu Sawiyah maka dapat menghubungi Anggota Team BFLF Meulaboh Saudari, Maya (HP : +6282168614454) dan atau juga Ketua BFLF Pusat, MichaelO Alexander Chan (HP : +6281260852973). Untuk bantuan dapat mengirim ke nomor rekening 3340-01-022415-53-5, Bank BRI atas nama Blood For Life Foundation.[]OOS

Personil Satpol PP Abdya Lumpuh, Butuh Kursi Roda

Syafrizal (39) saat dijemput tim BFLF di Gampong Uteun Gathom Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen. | Foto : Adi Khairi

Syafrizal (39) saat dijemput tim BFLF di Gampong Uteun Gathom Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen. | Foto : Adi Khairi

BFLF.or.id | Banda Aceh – SYAFRIZAL (39) Warga Gampong Kampung Tengah Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya, yang sehari-hari berpakaian seragam Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol PP) dikabupaten setempat.

Kegagahan dalam berseragam tersebut tak lagi dirasakan semenjak empat bulan terakhir, karena dia sudah menderita lumpuh. Sekitar bulan oktober Syafrizal dirujuk dari Badan Layanan Umum Rumah Sakit Umum Daerah Teungku Peukan (BLU RSUDTP) Aceh Barat Daya ke RSUD dr.Zainoel Abidin yang berada dipusat ibu kota Provinsi Aceh yaitu Banda Aceh.

Hal tersebut seperti diceritakan oleh Kasnilawati (39) Istri Syafrizal kepada Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Barat Daya, Nasruddin Oos saat bertemu dijalan Kakap, Jumat pagi 18 November 2016. Pukul 09:00 WIB.

Sehari sebelumnya, Nasruddin Oos dihubungi oleh Istri Syafrizal tersebut melalui saluran handphone dengan maksud meminta bantuan kursi roda untuk Pria tiga anak ini, kini berada di Matang Kabupaten Bireuen, selama satu bulan berada di RSUDZA Banda Aceh yang ditemani istrinya sampai Syafrizal dinyatakan boleh keluar dan selanjutnya berobat jalan. Kasnilawati binggung harus dibawa pulang kemana suaminya karena tanpa ada saudara di Banda Aceh hingga dibawa pulang ke Matang.

Senin 21 November 2016, Syafrizal harus berada di RSUDZA Banda Aceh untuk rawat jalan, kondisi Syafrizal yang kini lumpuh karena tulang belakangnya seperti tidak lagi berfungsi. “Suami saya tidak bisa duduk, dia membutuhkan kursi roda, harus kami cari kemana kursi roda, maka saya hubungi Diah dan Diah memberikan nomor Oos,” Ujar Kasnilawati

Sekitar empat bulan ini Syafrizal mengalami sakit, dia sebagai tenaga kontrak di Satpol PP dan WH Kabupaten Aceh Barat Daya, pada awalnya tidak mau berobat dirumah sakit karena tidak ada biaya, hingga Kasnilawati bersikeras untuk membawa suaminya hingga dari BLU RSUD Teungku Peukan Aceh Barat Daya dirujuk ke RSUDZA.

“Kemaren saya berangkat ke Banda dari Matang karena mau mencari bantuan kursi roda, ini pun uang tidak ada, sementara hari senin nanti suami saya masuk RSUDZA lagi dan hari minggu harus sudah ada di Banda. Alhamdulillah sekali jika saya nanti mendapat bantuan.” Kata Kasnilawati

Kasnilawati menunjukkan berkas yang dia bawa ke BFLF, seperti fotocopy Surat Keterangan Rawatan dari RSUDZA, fotocopy Surat Keterangan Kurang Mampu (Miskin) dan surat keterangan sakit/lumpuh yang ditanda tangan Geuchik Gampong Kampung Tengah dan Camat Kuala Batee, fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP), fotocopy  Kartu Keluarga (KK), fotocopy  kartu BPJS, fotocopy Kartu Tanda Anggota Satpol PP dan WH Aceh Barat Daya.

Kasnilawati sangat berharap, suaminya bisa berobat lanjutan ke RSUDZA dan mendapat bantuan kursi roda. Semoga selalu ada dermawan yang terbuka hati untuk membantu Syafrizal yang kini mengalmi lumpuh.[]

BFLF dan Mereka Penghuni Rumah Singgah

1michael

@Michael. | Foto : Nasruddin Oos

BFLF.or.id | BANDA ACEH – Laki-laki kurus itu berkursi roda, kulitnya berjenis sawo mantang. Kepalanya menunduk sekaya termenung saat duduk di depan spanduk berukuran 3×5 meter yang bertuliskan Rumah Singgah Blood For Life Foundation (BFLF), tak jauh dari pintu utama, kemeja putih dikenakannya koyak di sisi kanan, terlihat dipangkuannya sebuah kantong untuk kencing.

Di sisi lain, dua perempuan sedang berbincang ketika itu. Salah satu mereka tangannya asik bergerak memainkan jarum rajut, benang rajutan terus berkurang dari gulungan tergeletak di lantai teras beralas keramik. Beberapa aktivitas di rumah singgah, bila waktu sore keluarga pasien belajar merajut tas, setelah seharian mendampingi suami, anak atau istri bahkan adik atau kakaknya yang tercata sedang menjalani masa pengobatan di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA).

15202653_1480981551929771_7697187122058458865_n

Syafrizal Pasien Lumpuh / Foto : Michael

Sementara, beberapa anak muda berstatus mahasiswa di FISIP Unsyiah menjalani magang di BFLF sedang membersihkan kipas angin, baru saja diambil di rumah penyumbang. “Para donatur bisa menyumbang berbagai kebutuhan untuk dapat digunakan oleh keluarga pasien dari berbagai daerah Provinsi Aceh,” kata Agus Salam, salah satu mahasiswa magang.

Rumah singgah ini digagas oleh Blood For Life Foundation (BFLF) yang dinahkodai oleh Michael  O Alexander Chan. Salah satu organisasi sosial yang lahir pada 26 Desember 2010 silam. Awalnya kemunculannya, BFLF fokus mencari relawan pendonor darah, mempertemukan pendonor dengan keluarga pasien dan mengajak keluarga pasien untuk donor darah, sehingga makna saling berbagi itu dapat tercurahkan pada yang sangat membutuhkan.

Rumah singgah BFLF ini memasuki tahun kedua, hanya sebuah rumah berstatus sewa di Villa Citra Gampong Pineung, tahun pertama. Selepas itu pada tahun kedua ini rumah singga ini pindah ke Jalan Pari nomor 22 Lampriet, Kuta Alam, Kota Banda Aceh. Tampak sederhana bagunan gedung ini, namun cukup untuk membantu masyrakat yang membutuhkan. Rumah singgah ini hanya tersedia lima kamar, selebihnya ada ruang tamu, ruang menonton, ruang makan, ruang membaca dan dapur. “Per-Minggu rumah singgah ini harus menampung enam sampai delapan keluarga pasien,” kata Michael, kemarin.

img_20161103_114505_hdr

Arifani saat dijengguk oleh saudaranya dihalaman parkir RSUDZA Banda Aceh. | Foto: Sifral Jamil

Mulanya, rumah singgah ini hanya diperuntukkan untuk  pasien Kanker, Hemofili dan Thallasemia, tetapi pada kenyataannya, kata Michael mereka harus menampung pasien lain yang berstatus rawat jalan yang berasal dari keluarga kurang mampu. “Bahkan, ada yang sudah ber-minggu tidur di mushalla rumah sakit umum karena tidak ada tempat yang dekat dengan rumah sakit yang bisa mereka tempati, salah satunya pasien Tumor Mediastimum, Pak Ali Basyah (56) warga Gampong Ie Mameh Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya,” sebut Michael.

Pasien rawat jalan, untuk kebutuhan pengobatan itu memang ditanggung oleh Pemerintah Aceh melalui BPJS, tetapi untuk transportasi dari rumah sakit rujukan bertipe C, tipe B atau ke rumah sakit umum daerah bertipe A, tidaklah ditanggung oleh BPJS. Hal itu membuat pasien yang kehidupan sosialnya kurang mampu tentu saja mengambil keputusan untuk menyimpan di rak lemari surat rujukan dari dokter di rumah sakit tingkat kabupaten disimpan. “Dan ada yang rujukan sudah habis masa. Inilah yang selama ini kita damping selama ini di beberapa kabupaten yang sudah terbentuk BFLF di tingkat kabupaten,” kata Michael. “Ada juga kabupaten yang belum terbentuk BFLF, tapi jika kita mendapatkan kabar atau informasi maka BFLF akan menjemput dan mendampingi pengobatan.”

Menurut informasi yang dihimpun, kata Michael, rata-rata pasien yang didampingi BFLF itu merupakan orang-orang yang sudah putus asa dalam berobat, katanya, mereka ingin sembuh tetapi tidak ada dana dan tidak ada tempat tinggal, yang membuat mereka berbulan, bahkan bertahun tidak lagi berobat. BFLF pantang mendengar informasi, mereka langsung menemui pasien, meyakinkan pasien untuk berobat. “Nah, dalam hal ini banyak pasien mengatakan, bagaimana kami harus berobat ke Banda Aceh sedangkan untuk makan sehari-hari saja kami kesulitan,” ujar Arifani, salah satu pasien Tumor SNPC.

Arifani berkeinginan sembuh dari sakitnya. Lantaran tak memiliki biaya, dia hanya meraung kesakitan dengan meneteskan air mata di sisi wajahnya di rumah ketika rasa sakit itu menyerangnya. Sang menantu lah yang mencari obat ke dokter untuk menghilangkan rasa sakit, akan tetapi bukan menyembuhkan.

“Alhamdulillah Arifani, Senin 21 November 2016 lalu sudah menjalani kemoterapinya yang pertama setelah melewati proses pemeriksaan berbagai macam pemeriksaan dalam menentukan jenis obat yang digunakan untuk kemoterapi,” kata Michael. Ali Basyah—pasien lainnya, tentu berbeda dengan Arifan, meskipun mereka berasal dari daerah yang sama yaitu Aceh Barat Daya. Ali Basyah lelaki yang berprofesi sebagai penjual ikan keliling, muge eungkot—sebutan dalam Bahasa Aceh. Ali masuk ke rumah singgah BFLF menjelang kemoterapi yang ke empat kali. “Sebelumnya Pak Ali Basyah bersama istri dan anaknya tidur di Mushallah rumah sakit sambil menunggu jadwal kemoterapi,” sebut Michael.

Perlu diketahui, berdasarkan anjuran dokter pasien dampingan setiap bulan harus ke Banda Aceh, untuk menjalani berbagai proses yang diserukan oleh dokter. Ada yang khusus untuk transfusi darah, kemoterapi serta pengambilan obat dan konsultasi dengan dokter.

“Misalnya pasien tersebut dari kabupaten Aceh Barat Daya, menuju RSUDZA di Banda Aceh dengan naik mobil penumpang, maka harga tiket satu pasien Rp 120 ribu, ditambah dengan pendamping dari keluarga satu orang maka pulang pergi satu pasien untuk ongkos saja harus ada uang Rp 480 ribu, itu belum lagi ditambah makan dalam perjalanan dan selama di Banda Aceh. Maka setidaknya tiap bulan satu pasien harus ada uang sekitar Rp 800 ribu dengan menempuh perjalanan sekitar enam jam. Belum lagi dengan pasien dari kabupaten Aceh Singkil yang menempuh jarak perjalanan sekitar 13 jam,” kata Michael.

Sampai saat ini, BFLF tidak mempunyai donator tetap. Mereka tidak memilik jaringan keuangan, tetapi untuk mengalang dana baik unutk kebutuhan rumah singgah, transportasi pasien, dan memenuhi kebutuhan tambahan sesuai anjuran dokter, BFLF mengalang dana melalui media sosial, seperti BBM, Facebook, Path, Instagram, Weblog bahkan media massa, baik media cetak maupun media online.

Minggu lalu, BFLF dengan ambulance yang mereka miliki menjemput pasien lumpuh yang dari keluarga kurang mampu di gampong Uteun Gathom kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen. Pasien ini harus dibawa ke RSUDZA, jika tak dijemput dipastikan pasien ini tidak dapat melakukan konsultasi paska operasi tulang belakang. “Itu juga kita lakukan,” kata Michael.

Kini, BFLF memiliki dua unit ambulance. Satu unit menetap di Banda Aceh dan sisanya di BFLF Perwakilan Aceh Barat Daya. Kendaraan roda empat ini merupakan bantuan Bank Aceh yang berada di Aceh Barat Daya, yang memiliki ranjang. Sedangkan ambulance yang stanby di Banda Aceh ini tidak memiliki ranjang tidur tetapi selama ini di khususkan untuk antar jemput pasien Thallasemia yang berada di Banda Aceh dan Aceh Besar. “Sekali-kali ke laur kota juga,” kata Michael. BFLF juga kerjasama dengan RSUDZA dalam mengelola ruang Thallasemia. Bukan berarti mengambil alih peran para petugas di sana tetapi hanya saja BFLF mengelar ruang bermain untuk anak-anak Thallasemia seperti membuat lomba mewarnai dan berbagai aktivitas lainnya.

Tak sampai disitu, BFLF juga bekerjasama dengan Prof. Raldi Antono Koestoer dari Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan Yayasan Bayi Prematur Indonesia sebagai agen peminjaman incubator gratis wilayah Aceh dan Sumatra Utara.

Dikatakan Michael, Prof. Raldi memberikan dua unit incubator gratis, kemudian ditambah satu unit dari bantuan masyarakat Aceh yang menjadi partner lembaga sosial itu. Inkubator ini bisa dipinjam untuk bayi prematur dari keluarga kurang mampu yang membutuhkannya. “Untuk sekarang kita hanya mampu meminjamkan untuk wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar saja,” ujarnya, tentu dengan syarat dan ketentuan yang sudah mereka tetapkan. Bahkan kata Michael, ketikan incubator itu sedang dalam masa peminjaman, BFLF akan berkunjung untuk memantau perkembangan bayi prematur tersebut.

i2mg_5996

Ibu-ibu dirumah Singgah sedang belajar merajut | Foto : Nasruddin Oos

Selain itu, BFLF juga memiliki sebuah gerakan nasi bungkus, dibagikan pada keluarga pasien, sebanyak 30 bungkus untuk makan siang dan 30 bungkus untuk makan malam, diantar langsung oleh ralwan BFLF ke kamar pasien. “Ini juga khusus pasien dari keluarga kurang mampu,” cetus Michael.

Sejak didirikan, sampai sekarang ini BFLF terus melakukan pendampingan pasien yang kurang mampu dengan berbagai keterbatasan. “Kadang-kadang pasien kita di rumah singgah kekurang kasur dan bantal.” Tetapi BFLF memiliki cita-cita untuk mewujudkan donor darah sebagai gaya hidup sehat di Aceh, sehingga setiap orang bisa mendonorkan darahnya untuk keluarganya dan orang lain yang membutuhkan. “Ini akan membuat kebutuhan darah di Aceh selalu terpenuhi dan bisa menolong mereka yang membutuhkan,” imbuh Michael.

“BFLF didirikan untuk mengembangkan dan meningkatkan kepedulian, tanggung jawab sosial dan peran serta masyarakat untuk aktif menjadi donor darah sukarela, didasari kemampuan untuk menyukseskan secara maksimal misi program kemanusiaan sebagai mitra sejajar instansi pemerintah terkait maupun lembaga-lembaga sosial kemanusiaan dan kesehatan lainnya,” jelas Michael.

Dalam waktu dekat ini, BFLF kembali melakukan bedah rumah masyarakat miskin yang tidak layak huni. Hal tersebut sudah pernah terpubliskan melalui media massa. Mereka membantu janda tanpa anak hidup sendiri di rumah berdinding pelepah rumbia dan daun kelapa yang sudah dianyam serta berlantai bambu kering. Tanpa golden, tanpa pintu pengaman, bahkan kasur pun tak punya, apalagi kursi tamu buatan jepara. Bedah rumah janda miskin di rumah tidak layak itu sudah dua kali. Tahun lalu, rumah Nek Maneh di Gampong Padang Sikabu, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya.

“Inshaallah kita akan terus melakukan hal hal bermanfaat untuk masyarakat, mendampingi pasien kurang mampu, mendampingi dan menghibur anak-anak Thallasemia, Kanker dan penyakit anak lainnya,” pungkas Michael. [] Nasruddin Oos

NASRUDDIN OOS: PAHLAWAN TAK BERTOPENG DARI ACEH BARAT DAYA

@Nasruddin Oos

OOS demikian namanya dipanggil. Sekilas pandang, tak ada sesuatu yang berbeda jika tidak dikatakan bisa diharapkan dari pria ini. Kulitnya yang hitam makin mempertegas eksotisme garis DNAnya. Prestasi akademikpun nampaknya tidak terlalu menonjol, jarang terdengar Oos memberikan khutbah tentang topik yang berhubungan dengan studinya. Ketika kuliah, dia pernah memanjangkan rambut gondrong yang ikal keriting tak jadi. Ini dapat ditelusuri dari foto yang dia unggah di Facebook pribadinya. Suka mendesain, namun tidak punya toko grafika sampai tulisan ini diturunkan. Hal ini juga dapat dibuktikan dari banyaknya baju kaos yang bertulisan suka-suka dia. Banyak status yang dia unggah, terkadang butuh interpretasi ulang. Dan selalu diakhiri dengan tulisan *Nyan Mantoeng. Dari segi seni jika diklasifikasikan, Oos mirip-mirip dengan Sujiwo Tejo.

Kegilaannya pada kegiatan sosial memang telah tampak semenjak masa mahasiswa. Celakanya sepulang kekampung halaman, kegilaannya semakin bertambah. Bahkan Oos mampu membuat kegilaannya tertular pada orang-orang baru. Perselingkuhannya dengan dunia fotografi telah membidani lahirnya KomfOOs serta memberi energi lahirnya beberapa komunitas foto lain di Abdya. Menjadi wartawan, yang telah berpindah beberapa media membuatnya tetap diperhitungkan didunia jurnalistik. Mengenai asmara, tak banyak yang dapat diketahui dari seorang Oos yang sampai hari belum beristri. Oos juga aktif pada Blood For Life Foundation yang merupakan lembaga sosial yang berurusan dengan donor darah.

Oos memang belum punya anak, tapi dia telah membantu banyak anak tak kehilangan Ibunya. Oos memang belum punya anak, tapi melalui acaranya dia bisa mengajak orang mendonorkan darah sehingga seorang anak masih bisa memanggil seseorang dengan panggilan Ayah. Banyak saudara yang telah tertolong dengan adanya lembaga ini. Banyak orang yang bisa tetap sehat meski telah berbagi darah dengan sesama. Acaranya yang terbaru mengangkat judul “silaturahmi empat golongan”, kembali menyajikan fakta bahwa Oos dan komunitasnya terus beraksi. Oos tak memerlukan topeng, dan dia juga tak memerlukan panggung untuk aksinya. Tak perlu ajak wartawan, karena relawannya sendiri termasuk ada wartawan. Karena selalu ada cinta untuk cinta meskipun belum ada cinta dan belum beristri. Semoga cepat beristri.*Nyan Mantoeng.

**Tulisan ini ditulis sebelum Oos mengakhiri masa lajangnya, kini dia sudah menikah dengan meminang seorang gadis dari Bireuen pada tanggal 23 September 2016.

Penulis; Ikhwanul Abu Asyrafi·1 Juni 2016

Seorang Guru FISIKA di Salah Satu SMK di Aceh Barat Daya

Setetes Darah dan Cinta Dahlia (Episod. 6)

9700-052GELAP dan warna itam telah menjadi hal biasa di malam hari, semilir mulai nakal memainkan rambut ikal, padahal pakek topi. Beberapa kampung hanya terlihat cahya senter dan api hiasan lilin, ah cahya semu. Handphone kembali berdering, menyeret dari saku celana lalu melihat, oh rupanya Dahlia yang call me.

DAHLIA : “Assalamualaikum bang Oos, sombong banget, kok nggak pernah sich kirim pesan pendek.” Ujarnya diseberang sana

OOS : Bang Oos kan nggak pesan apa apa, kenapa harus pendek dik.

DAHLIA : “Selalu kek gitu dia e. Bang, ni Dahlia mau minta tolong, ada keluarga kawan lagi sakit dan membutuhkan darah. Pa bisa bang.”

OOS : ya bisalah dek, siapapun memerlukan dan sesiapapun boleh donor darah jika memenuhi syarat yang ditentukan. Nah adek kan masih ingatkan syaratnya. Emang siapa kawan adek itu.

DAHLIA : “Insya Allah masih ingat bang, salah satunya nggak minum obatkan selama satu minggu, cukup HB dan tensi serta BB 50 kg kan kalau didaerah kita ini. Itu bang, keluarganya si Mel, perlu darah golongan B, 3 kantong.”

OOS : Si Mel yang mana tu dek, ni ya adek isi data pasien dulu. Nama, umur,jenis kelamin, alamat, sakit apa, Goldar dan berapa kantong, no HP pihak keluarga yang bisa dihubungi jika nanti ada pendonor.

DAHLIA : “Iya bang, data pasien masih ada ni Dahlia simpan. Itu bang si Mel, nama lengkapnya Melati. Sebentar bang ya, Dahlia kasih data ini dulu sama si Mel.”

OOS : Dek, si Mel itu apa udah punya cowok dia.

DAHLIA : “kenapa sich bang, tanya tanya itu, abang naksir ya. Dia udah punya pacar bang, baru saja pacarnya pulang.”

OOS : Abang tanya bukan karena naksir kok, cuma mau tanya lagi. Cowok si Mel itu golongan darahnya apa. Kalau dia belum tahu goldarnya biar kita cek dulu, yang penting dia mau donor darah. Apalagi itu untuk keluarga pacarnya, kan senang keluarga si Mel nanti jika cowoknya donor darah. Apalagi saat dibutuhkan.

DAHLIA : “Cowok si Mel itu Goldarnya B, tapi dia nggak berani donor darah, katanya dia pingin banget mendonor darah untuk keluarga si Mel namun dia takut jarum suntik. Begitu dibilang perlu goldar B tadi, dia langsung pamit pulang.”

OOS : hehehehe, emang hubungan mereka serius ya dek.

DAHLIA : “Bang Oos kok ketawa sich, ngejek kali dia ni. Hubungan si Mel dengan cowok dia serius bang, mereka kan sudah berjanji cinta sampai mati.”

OOS : Hahahaha, bilang cinta sampai mati, kok donor darah kagak berani dek. Cinta bukan sekedar kata kata, tapi perlu pembuktian. Cinta bukan hanya dipamerin tapi perlu keseriusan, cinta bukan sekedar jalan jalan tapi perlu pengorbanan.

DAHLIA : “Bang Oos kok udah ngomongin cinta cintaan sich. Intinya bang bahwa cowok dia nggak berani donor darah dan dia udah pulang serta nomor handphonenya tak bisa dihubungi, padahal si Mel mau pesan nasi goreng. Ini datanya udah siap bang, dikirim lewat sms saja ya. Makasih banyak bang Oos ya.”

OOS : jadi perlu cowok cuma untuk beli nasi goreng ya dek, hehehe wah lain kalilah kaum kami ya. Oke dek, thanks ya atas informasi keperluan darah, abang buat bahan untuk BC dulu ya, semoga nanti ada pendonor yang datang dengan suka rela. Insya Allah, semoga Allah mempermudahkannya. Selamat malam, selamat istirahat.

Thanks dan Salam sayang penuh cinta selalu
Nasruddin OOS
Padang Sikabu, 22 Oktober 2014

Sumber :

https://inasoos.wordpress.com/2014/10/23/setetes-darah-dan-cinta-dahlia-ep-6/

Setetes Darah dan Cinta Dahlia (Episod. 5)

9700-074BILANGAN genap dalam rumusan matematika terlihat masih berjejeran. Seperti membentuk kubus lalu hadirnya sisi sama panjang. Mungkinkah itu terkadang alasan membutuhkan kuadrat.

“Pun kesedihan tidaklah rasional. Suatu akar 3 yang lain telah diam diam mendatangiku, bersama kami berkali membentuk satu angka yang kita pilih.”
Dan pun cinta adalah jawaban nyata tentang makna hidup yang terkadang sulit dimengerti.

Seperti sore itu, kami kembali bertemu Dahlia, namun kali ini dia membawa temannya. Katanya kawan sekamar, saat ada pernyataan demikian aku tak membentuk rumus2 baru untuk sekedar tanya dan mengembangkannya.

Cerita cinta tak akan ada habisnya sepanjang peradaban pun terus dibicarakan walau terkadang hidup lurus itu bukanlah sebuah dosa tetapi sangat baik apalagi beribadah berjamaah.

Pendek dan panjang bincang2 kami disekitar bibir pantai yang hanya berjauhan 2 km. Intinya tak terdengar deburan ombak, hanya sekali2 melirik senyum gemetarnya serta penuh kekakuan si kawannya Dahlia ini kita sebut saja namanya Anggrek.
OOS ; dah lama ya temanan kalian.

ANGGREK ; “udah bang, tapi kalau dg abg baru sekali ini jumpa.”
(Ujarnya sambil menghela nafas, seakan2 dia mau berenang)

OOS ; dek, pa udah pernah donor darah?

ANGGREK ; “Belum bang”

OOS; kenapa?

ANGGREK ; “ya karna belum penting aja bang, kan selama ini nggak merasa penting donor darah itu. Apalagi kalau donor darah itu sakit”

OOS ; enggak merasa pentingnya, apa nggak mau membantu orang lain. Kata siapa donor darah itu sakit dek, kan kamu belum pernah donor darah?

ANGGREK ; “Iya bg, kalau nanti ntah nggak tahu. Dengar2 sich sakit waktu ditusuk dengan jarum itu, kan jarumnya gedek bang.”

OOS; dek, kek mana bisa kamu katakan sakit tentang yg belum pernah kamu alami, itu hanya rasa takut, ketakutan hanya ada diperasaan mu dan itu sebuah ilusi.

ANGGREK ; “iya hai bang sakit tu. Ah nggak mau bg”

OOS ; Dek, kalau begitu. Izinkanlah aku untuk menyakiti mu agar kau cepat bahagia.

ANGGREK ; “kek mana bahagia jika disakiti bang”.

OOS ; kata mu tadi, bahwa donor darah itu sakit padahal tidak sakit malahan membuat sehat secara kesehatan. Maksudnya, jika itu memang sakit maka kita buktikan kesakitan itu, biarkan aku menyakitinya dengan mengajak mu ke Unit Transfusi Darah. Sehingga kau cepat bahagia, maksudnya, setelah donor darah nanti kamu mengetahui betapa berarti dan bergunanya dirimu untuk orang lain sungguh hal tersebut adalah sebuah kebahagiaan. Ya itu jika darah mu nggak terkenak virus.

ANGGREK ; “emangnya flasdisc bang bisa kenak virus.”

OOS ; hehehehe, ya itu semua melalu proses pemeriksaan oleh tenaga medis dek. Jiwa yang sehat, darah yang sehat, akan menghasilkan tindakan tindakan yang sehat.

ANGGREK ; “Adek pikir2 dulu ya bang, kalau ntar udah merasa siap untuk donor darah akan Anggrek hubungi abg, ya. Minta lu pin bg OOS”

OOS ; Semoga dek, rasanya tak adil saja jika naluri ingin membantu dapat dikalahkan oleh rasa takut yang menghantui. Ini pin OOS ya 229887E9.

Begitulah kiranya bincang2 kami sebelum benar2 waktu magrib. Anggrek menunggu waktu yang tepat untuk mendonor darah sedangkan pendonor lainnya banyak yang tepat waktu donorkan darahnya. Sampai jumpai di episod selanjutnya.

BFLF Aceh Barat Daya.
Salam Sayang Penuh Cinta Selalu

Nasruddin Oos

Blangpidie, 23 September 2014.

Sumber :

https://inasoos.wordpress.com/2014/11/02/setetes-darah-dan-cinta-dahlia-episod-5/

Setetes Darah dan Cinta Dahlia (Episod. 4)

9700-045SUARA jangkrik terdengar dendangnya dibelakang rumah. Memang sudah lama tak berkomunikasi dengan Dahlia. Cinta diantara dua pilihan memang terkadang sukar ditebak, namun seindah apapun rencananya maka akan lebih indah rencana Allah.

DAHLIA; “Bg Oos, yg kita pikir itu baik ternyata belum tentu baik, padahal kami sudah mengenal sekitar lima tahun. Ya akhirnya saya memilih mantan pacar yang sudah melamar, kamipun sudah bertunangan.”

OOS; Oh ya, selamat ya, trus gimana dengan pacar mu dek.

DAHLIA; “kami sudah putus bg, dia pun semakin gencar mnjelekn saja pd orang lain, seakan kebenaran dia miliki. Bahkan dia katakan pd orang kampunhnya bahwa dia mampu melamar Dahlia walau hanya dengan lesing BPKB sepeda motor.”

OOS; wah gencarnya promos lesingnya. Kalau emang ada tekad menghalalkan, tak usah mengumbar gitu donk. Terlihat banget pecundangnya ya. Hehehe

DAHLIA; “kenapa ya dia masih sering lewat depan rumah bang”

OOS; ya mungkin saja masih gaya jaman dek, hana leumah ureng asai ka leumah seulhop nyan kajet (Nggak nampak orang asal udah terlihat sandalnya saja itu lebih dari cukup).

DAHLIA; “hehehe, lucu banget tu gayanya kek gitu, trus apa maksudnya sering jelek2in Dahlia pada sahabat Dahlia gitu.”

OOS; Karena tak ingin orang lain menghalalkan mu makanya menjelekjelekin pada yg lain. Tapi apapun itu jangan lupa ajak tunangan mu nanti donor darah ya.

DAHLIA; “Untuk apa bg Oos, dulu dia itukan emang sering mabuk2. Dia juga kurus bang OOS.”

OOS; justru itu dek, kan nggak ada salahnya kita buktikn secara medis. Ktimbang nanti “terlanjur basah” ayooo, kan repot nanti.

DAHLIA; “Iya Bg Oos, nanti Dahlia ajak untuk Donor darah, Dahlia ntah sudah cukup ni berat badan sesuai syaratnya bg, sekarang ini BB 48 Kg”

OOS; kalau BB 48 itu nggak usah galau lagi ya naikan saja BB 2 kilo lagi dek. Kan bagus itu dek.

DAHLIA; “Insya Allah bg Oos, saya memang ingin sekali donor darah. Senang & sangat bahagia rasanya dpt bantu orang lain”.

Setetes darah anda nyawa bagi mereka.

Thanks, Salam sayang penuh cinta selalu.

Tunggu lagi episod selanjutnya…

NASRUDDIN OOS | BFLF Aceh Barat Daya

Setetes Darah dan Cinta Dahlia (Episod. 3)

33aSENJA berkemas lalu pergi padahal rindu masih bersarang di sanubari. Handphone yang bentuk huruf2nya telah memudar berbunyi dengan nada lagu “Perawan Desa”. Begini liriknya yg mjd nada “Hai pemuda tampan rupawan tetapi jangan terlalu menggoda merayu wanita yg lemah segalanya”. Hehe dangdut untuk nada BBM news.

DAHLIA ; “Bg OOS, kok banyak kali yg pasang DP anak bayi yg dibalut dengan kain sarung kotak2, emang ada kejadian apa bg.”

OOS ; oh itu, ada perempuan yg membuang bayi, dek.

DAHLIA ; “perempuan mana sich saat tega melakukan itu?”

OOS ; jangan panik gitu donk.

DAHLIA ; “Bg OOS ya gampang ngomongnya, saya sebagaimana perempuan sangat terpukul atas kejadian perempuan yang membuang bayinya.”

OOS ; iya dek, tapi jangan panik dulu artinya kita berharap pelaku pembuang bayi tersebut cepat ketahuan dan ditangkap oleh pihak berwajib serta dapat ditindak secara hukum yg berlaku.

DAHLIA ; “Kurang hajar banget perempuan yang buang bayi itu bang, saya selaku perempuan juga mengutuk atas perbuatan dia.”

OOS ; Memang akhir2 ini banyak kejadian tentang amoral, pelecehan seksual pada anak, pembuangan bayi. Ntah bagaimana moralnya itu.

DAHLIA ; “bg Oos, saya berharap pelakunya cepat ditangkap, setiap kejahatan yg dilakukan harus dipertanggungjawabkan secara hukum dan kepada Allah SWT.

Hanya sampai disitu OOS berkirim pesan dengan Dahlia, karena ada pendonor bernama Dedy yang datang ke UTD untuk mendonor darah O kepada Pasien AZHAR (43) yang mengalami Anemia.

Setetes darah anda nyawa bagi mereka.

Thanks, Salam sayang penuh cinta selalu.

Tunggu lagi episod selanjutnya…

NASRUDDIN OOS | BFLF Aceh Barat Daya

Sumber :

https://inasoos.wordpress.com/2014/11/02/setetes-darah-dan-cinta-dahlia-ep-3/