Oktober, 2015

now browsing by month

 

BFLF dan PMI Abdya Bantu Warga Miskin

BFLF-Abdya

BFLF – Koordinator bantuan untuk masyarakat fakir dari BFLF Abdya, Asrul Imam Madi mengatakan, total bantuan yang disalurkan berjumlah Rp. 700.000,- untuk membeli bahan pokok serta bantuan lain berupa barang keperluan rumah tangga pada senin (19/10/15).

“Kita akan galang dana untuk membangun rumah Nek Maneh yang memang tidak layak huni ini. Setelah nanti rumah Nek Maneh terbangun, kita akan mencari rumah fakir yang lain untuk dibantu,” katanya.

Sebelumnya BFLF mengupload kondisi perempuan fakir ini di media sosial. Nek Maneh selama ini tinggal bersama dengan cucunya, Idris, di rumah berkonstruksi kayu dan berlantai tanah. Mereka hanya memiliki sebuah kasur untuk ranjang Nek Maneh. Sementara Idris harus tidur beralas tikar pandan.

Rumah ini juga tidak memiliki kamar. Dinding tengah menjadi sekat yang membatasi ranjang Nek Maneh dengan ranjang sang cucu.

“Gerakan ini baru pertama kita lakukan, dan untuk pertama bantuan ini kita serahkan ke Nek Maneh. Saat kita upload di media sosial, banyak yang tergerak dan memberi bantuan,” ujar Asrul.

Bantuan yang disalurkan hari itu berupa beras, telor, minyak goreng, susu, roti, gula, bahan dapur, deterjen dan sabun mandi. Untuk peralatan antara lain periuk, panci, gelas, piring, tikar, dan kelambu serta kain sarung dan selimut.

“Untuk membangun rumah Nek Maneh ini kita sudah meminta bantuan geuchik untuk membantu status tanah yang sekarang ditempati oleh Nek Maneh bersama cucunya. Jangan sampai nanti ada sengketa di kemudian hari.

Bantuan akan kita galang melalui media sosial, serta kita akan mengelar hunting amal untuk membantu membangun rumah fakir yang tidak layak huni. Sementara ini bantuan yang sudah terkumpul semen enam sak, seng satu kodi,” kata Asrul.[]

Source: Fokusaceh

Bantu Keluarga Miskin, BFLF Sediakan Rumah Singgah

rumah singgah BFLF

BFLF Aceh – Blood For Life Foundation (BFLF) selama ini menyewa sebuah rumah untuk disinggahi pasien beserta keluarga dalam masa rawat ke rumah sakit. Rumah hunian sementara ini diperuntukkan kepada keluarga miskin dari daerah yang harus melakukan pengobatan rutin di rumah sakit.

“Sekarang lagi mengumpulkan donasi untuk melanjutkan sewa rumah singgah. Karena rumah singgah sekarang ini sudah hampir habis masa sewanya, rencana kami ingin menyewa rumah lima kamar agar lebih besar dari sebelumnya,” kata Teuku Ramadan, Project Manajer BFLF kepada portalsatu.com beberapa hari yang lalu (19/10/15)

Dia mengatakan saat ini rumah singgah BFLF sedang ditempati oleh pasien dari Aceh Singkil dan Krueng Raya, Aceh Besar. “Kami hanya fokus kepada pasien penderita thalasemia, kanker, dan hemophilia dikarenakan mereka berasal dari keluarga kurang mampu,” katanya.

rumah singgah BFLF

Rumah singgah BFLF

Menurutnya rumah singgah ini hanya dihuni saat pasien membutuhkan saja, terkadang juga kosong. Namun tidak jarang rumah tersebut penuh dan banyak masyarakat yang ingin menempati dikarenakan penghuninya tidak dibatasi ingin tinggal berapa lama.

“Seperti pasien dari Aceh Singkil, sudah satu bulan lebih menempati rumah singgah karena anaknya harus berobat rutin. Kalau kebutuhan pokok mereka juga kita tanggung semua termasuk uang saku. Tetapi untuk uang saku kita berikan dua minggu sekali, kalau kebutuhan pokok kita subsidi tiap kali habis,” ujar Ramadan.

Ia mengakui terkadang subsidinya macet dikarenakan masih minim para donatur. Dana yang digunakan selama ini dari para donatur, tetapi belum ramai yang mengetahui. Sejauh ini donatur hanya sebatas dari lingkungan sekitar saja dan belum memiliki donatur tetap.

Selain menyediakan rumah singgah, komunitas yang dipimpin oleh Michael Oktaviano ini juga membagikan 30 nasi bungkus gratis tiap harinya di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh.

BFLF merupakan organisasi sosial atau lembaga berprestasi tingkat nasional peringkat ke 5 dan memiliki beberapa program berupa mediator darah untuk pasien, rumah singgah, gerakan nasi bungkus, layanan antar jemput, traveling for humanity, seminar kemanusiaan, pengumpulan donasi dan berbagai program lainnya. Selama ini, komunitas yang bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sekaligus partner RSUZA ini sudah memiliki cabang di Lhokseumawe, Sigli, dan Aceh Barat.[]

Source: Portalsatu

BFLF Bagikan 30 Nasi Bungkus Tiap Hari

Relawan BFLF Aceh membagikan nasi bungkus

BFLF Aceh – Perempuan itu berjalan menyambangi setiap keluarga pasien. Tangan kanannya menenteng plastik biru. Di dalamnya, terlihat beberapa kotak atau bungkusan nasi. Ia adalah relawan Blood For Life Fundations (BFLF), komunitas yang bergerak di bidang mediator darah.

Siang itu, sejumlah relawan BFLF menyambangi Rumah Sakit Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Kedatangan mereka untuk membagikan 30 bungkus nasi kepada keluarga pasien. Keluarga penderita penyakit thalassemia, hemofili anak, dan kanker anak mereka sambangi. Setelah berbasa-basi sejenak, para relawan ini kemudian menyerahkan bekal makan siang.

“Setiap hari kami menyediakan minimal 30 bungkus nasi untuk kami bagikan kepada keluarga pasien tiga penyakit itu. Tujuannya untuk meringankan beban mereka,” kata Founder BFLF Michael Oktaviano, kepada detikcom, Sabtu (17/10/2015).

Program memberikan nasi makan siang keluarga pasien ini sudah berlangsung sejak enam bulan silam. Para relawan BFLF ini memperoleh nasi dari para donatur tetap maupun donatur tidak tetap. Saban siang, beberapa relawan diutus untuk mengantar nasi kepada keluarga pasien yang dirawat di RSUZA. Mereka rata-rata mendapat jatah bervariasi. Tergantung jumlah orang yang mengawal pasien.

“Biasanya kami memberi dua bungkus kalau keluarganya banyak,” jelasnya.

Ide program ini berawal dari keprihatinan relawan BFLF terhadap sejumlah keluarga pasien. Mereka rata-rata datang dari luar Banda Aceh dan kekurangan biaya selama di rumah sakit. Untuk mengurangi beban mereka, BFLF berinisiatif membantu. Awalnya memang bukan perkara mudah bagi relawan BFLF untuk membantu mereka.

Selain terkendala biaya, mereka juga belum punya donatur tetap kala itu. Setelah gencar melobi, akhirnya menemukan dua rumah makan yang mau bergabung. Untuk nasi yang dibagi pun waktu itu bukan 30 bungkus. Tapi hanya 25 bungkus. Para relawan ini membagikannya kepada keluarga pasien yang benar-benar kurang mampu.

“Fokus kita untuk keluarga kurang mampu. Karena rata-rata penderita penyakit thalassemia, kanker, atau hemofilia ini berasal dari keluarga kurang mampu,” ungkap Michael.

ketua BFLF membagikan nasi kepada keluarga pasien

Kini, para relawan BFLF juga masih mengalami sejumlah kendala dalam membagi-bagikan nasi makan siang. Antara lain, sering tidak cukup nasi pada hari-hari tertentu. Michael bercerita, pada hari Senin hingga Kamis biasanya sering tidak cukup nasi. Hal itu karena banyaknya pasien yang berobat. Namun ada juga hari-hari yang kelebihan nasi karena tidak banyak pasien.

Tujuan pemberian makan siang ini selain meringankan beban, juga untuk memberi ketenangan kepada keluarga pasien. Ini dilakukan agar mereka rajin membawa anggota keluarganya berobat dan tidak berpikir biaya lagi. Selama ini, banyak pasien thalassemia, kanker anak yang datang dari berbagai daerah di Aceh sering mengeluh soal biaya.

Kehadiran komunitas ini disambut positif keluarga pasien. Bahkan jika para relawan telat datang, keluarga pasien mulai bertanya-tanya. Mereka sebagian menunggu anggota BFLF di luar ruangan dan ada juga yang menunggu di dalam.

“Kami mendatangi setiap kamar untuk menyerahkan langsung pada keluarga pasien. Sekarang kami fokusnya untuk penyakit itu. Tapi kalau ada nasi lebih kami juga akan memberikan untuk keluarga pasien penderita penyakit lain,” jelas Michael.

BFLF digagas oleh Michael pada 2009 silam. Ide awal pendirian komunitas ini karena saat itu kebutuhan darah untuk penderita thalassemia di Aceh semakin banyak. Persediaan darah kerap tidak cukup. Para relawan BFLF ini akhirnya menjadi mediator darah untuk mencari pendonor yang mau mendonorkan darah mereka.

“Tiga penyakit itu memang paling banyak membutuhkan darah,” ungkapnya.

Beberapa waktu lalu, komunitas BFLF ini mendapat penghargaan lima besar tingkat nasional dari Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Sertifikat prestasi itu diteken langsung oleh Mensos dan diberikan pada 20 Desember 2014 lalu.

Selain menyediakan makan siang gratis, komunitas ini juga mendirikan rumah singgah di kawasan Lampineung, Banda Aceh. Tujuannya, agar keluarga pasien yang tidak punya tempat tinggal bisa menginap di sana selama berobat. Rumah itu dapat menampung tiga keluarga pasien.

Bukan itu saja, komunitas  BFLF juga menggelar Travelling For Humanity ke Pulo Aceh, Aceh Besar dan pedalaman Lhokseumawe. Kegiatan ini rutin digelar dua bulan sekali. Kegiatan tersebut bertujuan untuk berbagi untuk misi sosial dan kemanusiaan yang berfokus pada pendidikan dan kesehatan daerah terpencil.

“Harapannya masyarakat di daerah terpencil terbantu dari segi pendidikan dan kesehatan,” katanya.[]

Source: Detiknews